Jumat, 28 Januari 2011

brainstorming

berikut ini adalah beberapa tulisan (dari beberapa web) tentang bisnis, yang saya kerucutkan menjadi bisnis kaos. Dari asal mula kaos, kisah sukses JOGER, DAGADU, C59, MAHANAGARI sampai ALAPOLA.

semoga terinspirasi.


Strategi Bisnis: Jurus-Jurus Menentang Arus

"Untuk mencapai sukses, tak usah meniru sukses masa lalu. Sebagian pebisnis menerapkan jurus-jurus bisnis yang tak lazim dan bertentangan dengan teori. Mereka sukses karena menerapkan jurus-jurus bisnis yang menentang arus"

Antrean di sebuah counter BreadTalk di Mal Kelapa Gading, Jakarta, itu tampak mengular. Panjang. Mereka rela antre hanya untuk dapat mencicipi sepotong roti bertabur abon. Untunglah, sambil antre, mereka masih terhibur melihat "atraksi" pembuatan roti di dapur yang dindingnya transparan.
Dapur transparan, bukankah itu melanggar tradisi? Bukankah itu sama saja dengan membuka rahasia dapur? Bukankah itu menentang arus? Apalagi kebanyakan toko roti selama ini selalu meletakkan dapur di belakang. Salah satu tujuannya adalah agar tak mudah dilihat pesaing. Lagi pula, banyak orang menganggap tabu kalau pembeli bisa melihat suasana dapur, yang biasanya jorok, kotor, dan berantakan. Anggapan itu justru "ditabrak" BreadTalk.

"Dengan konsep open kitchen, BreadTalk ingin menjadi sebuah butik roti yang ingin bisa menyatukan rasa, pikiran, dan mata," kata Sugiyanto Wibawa, vice-president director PT Talkindo Selaksa Anugrah, nama perusahaan pemegang hak waralaba BreadTalk di Indonesia. Meski Sugianto mengaku bahwa konsep open kitchen berasal dari Singapura, nyatanya apa yang ia lakukan kemudian diikuti oleh beberapa toko roti lainnya di Tanah Air.

Menentang Arus, Apa Itu?Menurut associate consultant MarkPlus&Co, Yuswohady, jurus-jurus bisnis menentang arus kerap disebut sebagai blue ocean strategy. " Blue ocean strategyadalah strategi yang biasanya diterapkan dalam sebuah arena bisnis, di mana kondisi pasar atau lautnya masih berwarna biru, terbuka, karena belum banyak pemain yang menggarap," papar Siwo, panggilan akrab Yuswohady. Jadi, lanjut dia, bisa dikatakan bahwa blue ocean strategy adalah strategi yang radikal, gila, dan cenderung menentang arus bisnis yang ada.

Dalam kasus BreadTalk, jurus menentang arus yang dipakainya adalah tak sekadar mengandalkan kenikmatan rasa rotinya, seperti toko-toko roti lainnya di Indonesia. "BreadTalk berani menabrak tradisi dapur tertutup, dan terbukti bisa memainkan emosi konsumen dengan konsep keterbukaan dapurnya," jelas Siwo.

Selain BreadTalk, fenomena menentang arus juga dipakai Putera Sampoerna ketika mengeluarkan rokok rendah tar dan nikotin, A Mild, pada 1990-an. Langkah Putera ketika itu terbilang berani. Pasalnya, saat itu pasar rokok Indonesia masih didominasi oleh rokok kretek. HM Sampoerna bahkan dikenal sebagai salah satu produsen rokok terbesar yang sukses dengan rokok kretek merek Dji Sam Soe dan Sampoerna Eksklusif. "Namun, demi menghidupkan pasar A Mild, Putera Sampoerna malah memutuskan untuk mematikan produk Sampoerna Eksklusif," ujar Sendi Sugiharto, head manager of Category Low Tar Low Nikotin. Sebuah langkah berani dan penuh risiko.
"Rokok A Mild adalah bukti keberanian Putera Sampoerna untuk melupakan kesuksesan HM Sampoerna dengan kejayaan rokok kreteknya," ucap Siwo. Padahal, biasanya orang kalau sudah sukses, mereka akan menggunakan strategi bisnis atau membuat produk yang tak jauh berbeda dengan kesuksesan masa lalunya. Gampangnya, ngapain mesti repot-repot kalau bisa menjiplak strategi bisnis sebelumnya. Namun, untuk Putera Sampoerna, ia malah mempraktekkan jurus menentang arus: lupakan sukses masa lalu.

Dalam dunia dengan persaingan yang makin keras, berbisnis dengan cara-cara yang biasa jelas tak memadai lagi. Produk harus unik. Strategi jangan sampai mudah dikenali lawan. Itu pulalah yang diterapkan oleh Bob Sadino, pemilik sekaligus pendiri Kemchicks Supermarket, yang berlokasi di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Bob dikenal sebagai pengusaha yang anti manajemen. "Saya selalu menganalogikan bisnis itu seperti sungai yang penuh kebebasan, tanpa perencanaan, bahkan tanpa arah tujuan yang hendak dicapai," kata pria yang khas dengan celana pendeknya itu.

Bob tak pernah memakai rencana, atau mematok target. Untuk masalah keuangan di Kemchicks Supermarket pun Bob tak pernah ikut campur. Semua pengelolaannya ia percayakan kepada karyawan, yang oleh Bob disebut sebagai "anak-anaknya". "Jadi, kalau Kemchicks untung Rp100 miliar, ya terserah anak-anak saja, mau dihabiskan untuk apa saja," katanya, serius. Bob memang memberikan kebebasan penuh kepada 350 karyawannya untuk bekerja sesuai keinginan mereka. Meski serba tak masuk di akal, toh terbukti hingga kini Kemchicks, Kemfood, dan Kemfarm masih eksis.

Cara aneh membesarkan usaha juga dilakukan oleh Purdi E. Chandra. Ia termasuk orang yang percaya bahwa kalau ingin sukses tak perlu pendidikan formal. Namun, ketika Purdi mendirikan Entrepreneur University dengan cara itu, banyak orang mengerutkan kening. "Kuliah di Entrepreneur University modelnya tanpa ijazah. Mahasiswanya baru bisa diwisuda kalau sudah berhasil membuat usaha sendiri," kata Purdi. Jadi, kalau ingin sukses seperti Purdi, yang mantan anggota MPR RI ini, lupakan pendidikan formal. Ijazah itu tak penting.

Sudah tentu masih banyak jurus menentang arus yang bisa dipetik dari berbagai kasus. Misalnya, ada fenomena kaus Dagadu dari Yogyakarta yang tak mau ekspansi ke luar dari Kota Gudeg itu. Lalu ada Joger dari Bali, strategi harga tiket murah ala Lion Air, gratis kartu prabayar As, dan sebagainya.

Melihat Dari Sisi Yang Berbeda Lalu, apa yang bisa dipetik dari beberapa jurus bisnis menentang arus tadi? Sukseskah? Kafi Kurnia, pakar bisnis dan pemasaran dari Inbrand, memberi gambaran gunanya memakai jurus menentang arus. "Dalam berbisnis, kadang kala, kita mesti berpikir secara holistik atau dari dua sisi," katanya. Jadi, ibarat koin, melihatnya harus dari dua sisi secara bersamaan.

Cara ini biasa digunakan orang-orang yang mengalami kemacetan saat menjalankan teori-teori bisnis dari bangku pendidikan. "Sebab, di dunia ini sebenarnya banyak teori bisnis yang hanya melihat dari satu sisi. Padahal masih ada sisi yang lain, yang berbeda sama sekali," kata Kafi, yang juga penulis buku Anti Marketing --sebuah buku tentang jurus-jurus pemasaran yang edan, ngawur, tapi kreatif.

"Ibaratnya, kalau menemui jalan yang mulai macet, supaya mobilnya tetap jalan, ya harus mencari jalan alternatif," kata pria berambut jabrik ini. Jadi, meski dianggap nyeleneh, sebenarnya jurus-jurus menentang arus bisa dijadikan alternatif dari teori bisnis yang ada.

Namun, yang patut diingat, memakai jurus-jurus menentang arus bukan tanpa risiko. Untuk mengenalkan cita rasa rokok mild, misalnya, membutuhkan waktu 3-5 tahun. "Sampai 1995 saja A Mild belum dikenal konsumen. Buktinya, kalau kami membagi-bagi sampel gratis pun masih ada konsumen yang tidak mau," tutur Sendi Sugiharto. Salah satu kendala yang paling berat untuk mendorong kesuksesan A Mild, tambah Sendi, adalah terus meyakinkan pasar.

Akhirnya Sampoerna memutuskan untuk melakukan edukasi pasar dan terus meyakinkan tim pemasaran dan wiraniaganya agar mau terus menjual. Hasilnya tidak sia-sia. Dengan brand "Bukan Basa Basi", tahun 2004 A Mild bisa menguasai 8% pangsa pasar rokok mild, atau lebih dari 200.000 batang per tahun. Ia diikuti oleh para pesaingnya, seperti Star Mild dan X Mild (Bentoel), LA Light dari Djarum Kudus, dan yang terakhir Gudang Garam Nusantara.

Menurut Siwo, menerapkan jurus menentang arus memang berisiko. Salah satunya, harus mau mengedukasi pasar. "Tak mudah mengubah keinginan pasar yang masih perawan, alias blue ocean," ungkap alumnus Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada ini. Risiko selanjutnya adalah kemungkinan langsung ditiru oleh kompetitor, seperti dalam kasus A Mild dan BreadTalk.

Memang begitulah, sesuai namanya, yaitu menentang arus, sudah pasti jurus ini akan berhadapan melawan arus. Untuk berhasil, yang menerapkannya mesti punya tenaga ekstra. Namanya saja menentang arus. Jika tanpa tenaga ekstra, ia malah bakal hanyut terbawa arus ... lalu tenggelam.
Jurus-Jurus Menentang Arus Itu ....

Lupakan Sukses Masa Lalu Tak ada kesuksesan yang abadi. Sebelum masa suram itu tiba, mulailah dari sekarang untuk melupakan masa lalu (baca: kesuksesan Anda). "Salah satu langkah awal membuat jurus menentang arus adalah melupakan formula, strategi, dan semua sendi-sendi kesuksesan perusahaan atau bisnis di masa lalu," ungkap Yuswohady. Sebab, biasanya, keberhasilan masa lalu bisa dengan mudah diikuti oleh para kompetitor. Sebagai generasi ketiga, Putera Sampoerna mau melupakan kejayaan rokok kreteknya dengan meluncurkan A Mild.
Tabrak Saja TradisiSiapa yang bakal mengira bisa melihat cara membuat roti di sebuah mal? Dengan konsep open kitchen, BreadTalk sukses menggabungkan pikiran, rasa, dan mata. Atau, Anda mungkin masih ingat pada 1980-1990, tren minuman dalam kemasan banyak yang berbentuk botol.

Namun, Extra Joss justru berani membuat minuman kemasan sachet. Sukses ternyata bisa dicapai kalau ada keberanian menabrak tradisi.

Anti ManajemenJargon ini terkesan ekstrem. Teori manajemen mengajarkan pentingnya perencanaan, target, eksekusi, dan evaluasi. Namun, Bob Sadino justru bertolak belakang. Ia tak pernah memakai ilmu manajemen. "Sebenarnya langkah bisnis saya adalah langkah seribu," gurau Bob. Tak ada manajemen, feeling, atau insting yang dipakai Bob dalam berbisnis.

Distribusi Itu Tidak PentingSukses sebuah produk sangat tergantung pada distribusinya. Namun, ini tak berlaku bagi kaus Dagadu di Yogyakarta dan kaus Joger dari Bali. Semua orang mengakui bahwa dua produsen kaus itu dikenal kreatif memainkan kata-kata. Namun, Dagadu dan Joger tak pernah mau membuka cabang di kota lain. Cara ini justru membuat produknya laris dan banyak dicari. Kaus Dagadu diproduksi 5.000-10.000 potong per bulan. Akibat pembatasan distribusinya, mereka yang ingin memilikinya harus datang ke Yogya atau Bali.


Lupakan Ijazah, Lupakan Sertifikat

Purdi E. Chandra, pendiri sekaligus dirut Primagama, sukses membesarkan lembaga bimbingan tes-nya yang kini beromzet Rp100 miliar per tahun. Kunci sukses Purdi justru tidak mengandalkan ilmu pendidikan formalnya. "Jadilah pengusaha yang cerdas di lapangan, di jalanan, dan berani menentang teori dari sekolah formal," katanya.

Harga Tak Usah Masuk AkalLion Air berani membanderol harga tiket pesawat 50% lebih murah dari semua harga tiket pesawat yang berlaku di semua maskapai saat itu. Hal serupa terjadi untuk pembelian kartu perdana dari IM3 dan Kartu As dari Telkomsel. Dengan harga beli Rp 15.000, konsumen bisa mendapatkan nomor perdana dan pulsa senilai Rp 25.000.

Tak Perlu Menjadi yang PertamaTak selamanya menjadi yang kedua, atau pengikut, selalu gagal. Dalam kasus internet banking, meski LippoBank yang menjadi pionirnya, kini justru BCA yang memimpin. Begitu juga dengan bisnis kartu kredit. Pencetusnya adalah Bank Duta, tetapi kini yang menikmati booming kartu kredit adalah Citibank.Dikutip dari Majalah Warta Ekonomi Edisi 8 Agustus 2005.




Menjadi Modern dengan Kaos

Oleh ANTARIKSA


Dibanding jenis pakaian lainnya, sejarah kaos oblong [1] sebenarnya belumlah terlalu panjang. Kemungkinan besar kaos baru muncul antara akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Kaos berbahan katun biasanya dipakai oleh tentara Eropa sebagai pakaian dalam (di balik seragam), yang fleksibel dan bisa dipakai sebagai pakaian luar jika mereka beristirahat di udara siang yang panas. Istilah “T-Shirt” (metafor yang mungkin diambil berdasar bentuknya) baru muncul di Merriam-Webster’s Dictionary pada 1920, dan baru pada Perang Dunia II ia menjadi perlengkapan standar dalam pakaian militer di Eropa dan Amerika Serikat (T-Shirt King).

Kaos oblong mulai dikenal di seluruh dunia lewat John Wayne, Marlon Brando dan James Dean yang memakai pakain dalam tersebut untuk pakain luar dalam film-film mereka. Dalam A Streetcar Named Desire (1951) Marlon Brando membuat gadis-gadis histeris dengan kaos oblongnya yang sobek dan membiarkan bahunya terbuka. Dan puncaknya adalah ketika James Dean mengenakan kaos oblong sebagai simbol pemberontakan kaum muda dalam Rebel Without A Cause (1955) (Cullum-Swan dan Manning, 1990). Teknologi screenprint di atas kaos katun baru dimulai awal “60-an dan setelah itu barulah bermunculan berbagai bentuk kaos baru, sepertitank top , muscle shirt , scoop neck , v-neck dsb.


Fashion, Kaos, dan Komunikasi

Meski sudah mulai mendunia sejak “50-an, konvensi mode dunia tetap saja belum memasukkan kaos ke dalam kategori fashion . Kaos tetap saja dianggap sebagai pakaian dalam yang tidak pantas dikenakan sebagai pakaian luar. Memakai kaos masih juga dianggap sebagai tindakan yang unfashion. Karena itu pada masa musik heavy metal mulai digemari kalangan muda, mereka ini sengaja memilih seragam kaos oblong sebagai bentuk penolakan terhadap konvensi arus utama mode dunia ( high fashion ) (McRobbie, 1999). Menyobek beberapa bagian dari kaos oblong bahkan merupakan bagian dari gaya subkultur punk. Bagi mereka ini bentuk fashionadalah unfashion (Hebdige, 1999).

Perubahan dalam bahan dan teknologi produksi kaos turut berperan dalam perubahan makna kaos dalam kehidupan sosial. Ditemukannya polyester dan bahan-bahan fiber artifisial, bersamaan dengan diperkenalkannya bahan drip-dry untuk pembuatan pakaian, penambahan variasi warna, gaya dan tekstur, membuat kaos semakin diterima sebagai pakaian luar. Meski begitu, dalam diferensiasi sistem fashion, hingga sekarang kaos masih digolongkan dalam kategori low fashion ( unfashion? ). [2] Berbeda dengan produk high fashion yang didesain dan dibuat secara khusus untuk orang-orang khusus, hampir semua kaos merupakan low fashionyang didesain untuk tujuan diproduksi secara massal. [3]

Variasi kaos sebagai pakaian luar sekarang ini sangat beragam. Kaos diproduksi baik dalam warna-warna primer maupun dalam kombinasi yang lebih kompleks, beberapa di antaranya dilengkapi dengan saku untuk menyimpan alat tulis, rokok, atau benda kecil lainnya. Dengan begitu kaos tidak hanya dipakai oleh kalangan muda, laki-laki, atau mereka yang berasal dari golongan bawah saja, tetapi juga dipakai oleh siapa saja. Kita juga melihat kaos dipakai dalam berbagai aktivitas, dari bekerja hingga mengisi waktu senggang, seperti jalan-jalan di pusat pertokoan atau bermain golf.

Kaos oblong sekarang ini juga telah menjadi wahana tanda. Kaos, sebagaimana pakaian lainnya, membawa pesan dalam sebuah “teks terbuka” di mana pembaca atau penonton bisa menginterpretasikannya. Berbagai bentuk, gambar, atau kata-kata dalam kaos merupakan pesan akan pengalaman, perilaku dan status sosial. Kaos oblong mengkomunikasikan berbagai lokasi atau identitas sosial: tempat (HRC, Borobudur, Bali, Yogyakarta), bisnis (Coca Cola, Yamaha, Suzuki), institusi (UGM, UI, ITB, De Britto). Kaos oblong lainnya mengkomunikasikan kelompok atau kolektivitas (Canissi Seminarium, Pro Iustisia), tim (MU, Inter Milan), konser atau acara kesenian(Jakjazz, Pameran AWAS!), komoditas yang dianggap bernilai (VW, Harley Davidson), pengalaman ceremonial (KKN UGM 2000), sementara banyak juga yang mengkomunikasikan slogan (Awas Pemilu 97 Curang, kaos-kaos Dagadu, Joger).

Betapapun klaim atas identitas atau status dalam kaos oblong ini bersifat ambigu, dalam terminologi Umberto Eco (1979), representasinya selalu bersifat undercoded , ia berhubungan secara synecdochical (satu bagian dari kaos mewakili keseluruhan pribadi seseorang) dengan pengalaman, relasi sosial, nilai, atau status yang diklaim secara eksplisit atau implisit oleh pemakainya. Pesan yang disampaikan dalam kaos bukanlah sekedar tentang tempat, kelompok, atau bisnis, tetapi klaim atas status pemakainya. Seorang pemakai kaos oblong Dagadu misalnya, bukan sekedar menyampaikan pesan bahwa kaos oblong yang dipakainya adalah buatan Yogyakarta, melainkan juga mau mengumumkan sebuah pengalaman yang menurut pemakainya cukup penting (ia seperti mau mengatakan,”Mari saya beritahu pengalaman saya jalan-jalan di Yogya”). [4]

Tetapi sekarang ini kaos oblong juga dipakai untuk mengkomunikasikan apa yang bukan bagian dari identitas seseorang. Misalnya, saya pernah melihat seorang ibu muda yang sedang berjalan mengandeng anaknya. Si ibu ini memakai kaos dengan tulisan “BITCH” di bagian depannya. Apakah si ibu ini tidak mengerti bahasa Inggris atau penguasaan bahasa Inggrisnya pas-pasan, sampai ia tidak mengerti bahwa bitch (anjing betina) adalah umpatan yang sangat kasar yang biasa dipakai untuk menyebut wanita jalang? Apalagi waktu itu ia sedang menggandeng anaknya. Bukankah si anak ini menjadi cocok dengan umpatan lainnya, son of a bitch ? Seandainya si ibu ini cukup mengerti bahasa Inggris, tentu yang mau dikomunikasikannya adalah “saya bukan bitch “. Ini semacam pendifinisian double negative, di mana seseorang mengklaim (secara ragu-ragu) keanggotaan pada kelompok tertentu yang tidak eksis. Si ibu tadi mengklaim keanggotannya pada kelompok “perempuan/ibu yang baik” tanpa menghadirkan kelompok yang diklaimnya ini. Hal yang sama juga terjadi pada kasus salah satu teman saya yang memakai kaos bergambar logo Golkar untuk menunjukkan pengejekannya pada Golkar atau untuk mengatakan bahwa ia bukan simpatisan Golkar.

Dengan semakin tumbuhnya industri periklanan, kaos merupakan bilboards mini yang cukup efektif untuk mengkomunikasikan sebuah produk, sebagaimana mengkomunikasikan diri atau identitas. Seringkali kaos dijadikan iklan berjalan yang oleh pengiklan kadang-kadang dibagikan secara gratis. Di Indonesia, adalah hal yang biasa banyak orang berebut mendapatkan pembagian kaos dari OPP pada saat Pemilu (tak jarang juga disertai pembagian “amplop”). Perusahaan-perusahaan sekarang ini juga membuat kaos dengan nama atau logo perusahaan yang tertera di atasnya (Coca Cola, Reebok, Nike, Wilson), dan menjualnya di toko-toko sebagai pakaian produksi massal yang siap pakai. Bagi sejumlah besar pemakainya, tentu memakai kaos oblong tidak dimaksudkan sebagai iklan, melainkan sebagai indikasi status dan pendapatan pemakainya, loyalitas atau kepercayaan pada satu produk. Ia juga merupakan suatu bagian dari identitas diri, “Saya adalah penggemar Coca Cola”, “Seperti Michael Jordan, saya memakai Nike (bagaimana dengan Anda?)”. [5]

Kaos-kaos buatan perusahaan tertentu dianggap mewakili gaya hidup atau selera yang khas, selain sekaligus si pemakai mengiklankan perusahaan pembuatnya. Misalnya kaos bermerek Benetton, Ralph Lauren atau Calvin Klein. Simbol-simbol tertentu pada kaos, seperti buaya kecil atau kuda poni dan pemain polo kecil (dan berbagai variannya), juga sangat penting. Simbol-simbol ini bukan hanya menunjukkan status pemakainya yang mampu mengkonsumsi pakaian buatan desainer mahal, tetapi juga status dalam sistem fashion itu sendiri (ketika kelompok desainer Parisian juga memproduksi kaos, apakah kaos menjadi high fashion ?).


Kaos dan Kehidupan Modern

Lebih dari jenis pakaian yang lain, sejarah kaos bukan saja menunjukkan cepatnya perubahan teknologi dalam industri garmen, melainkan juga menunjukkan bagaimana fashion bernegosiasi dengan ruang dan waktu.

Kaos semula hanya diakui sebagai pakaian dalam. Dan dalam kaitannya dengan pola penempatan ruang, sebagai pakaian dalam kaos adalah pakaian privat . Tetapi kemudian dengan negosiasi lewat media massa dan penemuan bahan serta model-model baru, kaos perlahan mulai tampil sebagai pakaian publik. Karena itu, sejalan dengan kecenderungan kehidupan modern, perjalanan kaos dari ruang privat ke ruang publik ini merupakan ekspansi ruang privat atas ruang publik (privatisasi ruang publik). Sementara dalam kaitannya dengan pola pemanfaatan waktu, kaos menunjukkan bagaimana waktu senggang semakin berhasil mengekspansi waktu yang lain dalam kehidupan sehari-hari. Kaos bisa dilihat sebagai bagian dari leisure class , yang menunjukkan statusnya dengan pemanfaatan waktu senggang sebesar-besarnya (Rojek, 2000). [6]

Persis seperti semboyan kaos oblong Dagadu ” Smart and Smile “, kaos oblong mengajarkan bagaimana hidup modern harus dijalani: berpenampilan cerdas, ringkas, tangkas, sekaligus santai. Hidup dengan segala tetek-bengeknya yang rumit ternyata tidak harus dijalani dengan rumit pula, melainkan bisa dijalani dengan “seperlunya dan santai”. Dalam perspektif ini, papan pengumuman di kampus-kampus yang berbunyi “Dilarang memakai kaos dan sandal” adalah warisan dari kehidupan masa lalu yang “serius” dan sebentuk “pendisiplinan gaya”, yang tidak lagi cocok dengan semangat smart and smile . Karena itu mahasiswa tetap saja berkaos oblong di kampus, pertama-tama bukan untuk menunjukkan perlawanan langsung mereka kepada aturan hidup yang lama, melainkan untuk menunjukkan bahwa diri mereka sendirilah yang paling berhak atas penampilannya. Dan bagaimana mereka harus berpenampilan, salah satunya ditentukan oleh resepsi mereka terhadap media massa, yang juga mengajarkan smart and smile (misalnya semboyan iklan telepon genggam Nokia seri 3210, “Begitu kecil, begitu cerdas”). Jadi hidup modern dijalani dengan semangat mengisi waktu senggang. Inilah yang disebut estetikasi kehidupan sehari-hari yang mencirikan kehidupan modern (di mana “yang etis” bergeser menjadi “yang estetis”). Semangat kehidupan modern sebenarnya adalah semangat kaos oblong.


Referensi

§ Ajidarma, Seno Gumira, 2001, “Djokdja Tertawa, Disain Kaos Oblong DAGADU”, Bernas , 12 Januari 2001.

§ Cullum-Swan, Betsy dan P.K. Manning, 1990, “Codes, Chronotypes and Everyday Objects”, makalah disampaikan dalam konferensi The Socio-semiotics of objects: the role of artifacts in social symbolic process, 20-22 Juni 1990, University of Toronto. Tersedia di: http://sun.soci.niu.edu/~sssi/papers/
pkm1.txt

§ Eco, Umberto, 1979, Theory of Semiotics , Indiana: University of Indiana Press.

§ Hebdige, Dick, 1999 (1979), Subculture, The Meaning of Style , London & New York: Routledge.

§ McRobbie, Angela, 1999, In the Culture Society, Art, Fashion and Popular Music , London & New York: Routledge.

§ Rojek, Chris, 2000, “Leisure and rich today: Veblen”s thesis after a century”, Leisure Studies19 (2000), hal. 1-15.

§ T-Shirt King, “History of American T-Shirt”. Tersedia di: http://www.t-shirtking.net/history_of_t-shirts.html

Makalah ini disampaikan sebagai pengantar diskusi “Art on T-Shirt”, Bentara Budaya Yogyakarta, 13 Januari 2001. Versi pendek tulisan initermuat di KOMPAS, 28 Januari 2001.


Catatan

[1] Dalam tulisan ini saya memakai kata kaos oblong dan kaos secara bergantian, keduanya menunjuk pada kata dalam bahasa Inggris t-shirt .

[2] Betsy Cullum-Swan dan P.K. Manning (1990) membuat diferensiasi fashion dengan lebih rinci, yang terdiri dari high fashion , mass fashion , dan vulgar fashion . Yang termasuk dalam high fashion adalah pakaian yang didesain secara khusus untuk orang-orang khusus dan dijual di outlet-outlet khusus. Dalam kecenderungan fashion dunia sekarang ini high fashion tidak bisa dilepaskan dari keberadaan para desainer profesional, utamanya yang biasa disebut sebagai desainer Parisian. Mass fashion di sisi lain lebih merupakan sebuah sistem mencipta, mendistribusikan, dan menjual salinan dari pakain karya para desainer. Sementara vulgar fashionmerupakan pakaian yang diciptakan lewat produksi massal dari salinan mass fashion “selang beberapa waktu setelah sebuah produk mass fashion beredar di pasaran. Untuk diskusi ini, saya menyederhanakan diferensiasi ini menjadi dua bentuk saja, high fashion dan low fashion. Yang terakhir ini merupakan penggabungan dari mass fashion dan vulgar fashion .

[3] Karena itu pameran “Art on T-Shirt”"yang disertai dengan penjualan secara terbatas kaos yang dipamerkan”bisa dilihat sebagi usaha menaikkan gengsi kaos atau usaha untuk memasukkan kaos ke dalam high fashion .

[4] Bagaimana pesan dalam kaos sampai ke pembaca/penonton adalah persoalan lain lagi. Untuk bisa dikatakan berhasil, klaim atas status atau identitas dalam pesan membutuhkan legitimasi dari pembaca/pentonton. Adalah tidak mungkin membuat interpretasi atasnya hanya berdasar pada kaos itu sendiri (klaim pemakainya). Setiap pesan dalam kaos sebenarnya sangat samar-samar ( equivocal ) dan pembaca/penonton mungkin tidak percaya dengan pesan-pesan itu. Bisa diselidiki lagi, apakah kaos bisa dijadikan alat manipulasi simbol status? (seperti kaos “Karl Marx, Since 1867″ dalam pameran ini atau kaos-kaos bergambar Che Guevara), apa yang diklaim dan siapa yang mengklaim? Dengan kata lain, tanda ( sign ) dan wahana tanda ( sign vehicle ) pada kaos menyampaikan koherensi dan integritas representasional yang ambigu.

[5] Rojek (2000) memberikan gambaran yang rinci bagaimana selebritis menjadi kaya raya karena mengiklankan berbagai produk industri pakaian. Dan mereka ini pada gilirannya akan menjadi salah satu agen pencipta fashion yang sangat penting.

[6] Sisi lain dari hal ini adalah kaos juga merupakan komoditas dalam budaya konsumen yang keberadaanya tidak bisa dilepaskan dari leisure class . Ajidarma (2001) mengaitkan kaos dengan budaya pop yang selalu bergelut dengan pasar.



City and Branding, Kampanye Kota Dalam Bisnis Kaos

Kira-kira apa yang kamu ingat ketika mendengar kata Bandung? Hm, mungkin banyak banget. Gedung sate, Braga, Gasibu, Factory Outlet, Distro, Paris van Java, Surabi, Batagor, Soto Bandung, Mojang-mojang, bahkan Saritem pun bisa jadi sesuatu yang diingat tentang Bandung, dan masih banyak lagi sisi kota Bandung yang mungkin bisa kamu ingat dari yang penting sampai ga penting, dari berkesan sampai dikenang sepanjang masa. Sisanya terserah kamu deh!

Itulah sedikit pertanyaan pembuka yang harus dijawab oleh teman-teman sahabat kota saat memperkenalkan dirinya di rabu belajar minggu ini (rabu/ 3).

Di rabu belajar kali ini, sahabat kota mendatangkan para sahabat yang bergerak di bidang bisnis kaos. Eits tapi ini bukan sekedar kaos yang suka nampang di etalase distro atau fo. Pasti kebayang kan klo kaos distro dan fo itu seperti apa.

Lalu kaos seperti apa yang dibuat dan dipajang oleh para sahabat ini? Sebelum kita mengenal tentang mereka mungkin teman-teman pernah dengar tentang brand kaos Joger. Pasti yang langsung kebayang adalah kota Bali. Nah klo Dagadu, pastinya ini Jogja banget dengan desain-desain penuh plesetan.

Ya, brand sebuah kota yang tercantum dalam sebuah kanvas berjalan (kaos) adalah motivasi dari sahabat Mahanagari untuk memperkenalkan dan berkampanye mengenai kota Bandung dari berbagai aspek.

Banyak hal positif dan negatif yang bisa kita ingat dari kota tercinta ini, dan terkadang pemerintah kota kurang tanggap terhadap hal-hal negatif yang terjadi. Selain itu pula banyak warga kota itu sendiri yang tidak banyak tahu mengenai potensi kota tempat tinggalnya. Oleh karena itu, dengan desain-desain yang ditampilkan oleh Mahanagari pada setiap kaosnya ada sebuah makna dan informasi yang tersampaikan sehingga muncul wujud-wujud kepedulian lokal untuk lingkungan sekitar kota Bandung. Begitulah yang disampaikan oleh Kang Ben, Kang Hanafi, Neng Ulu, dan si kecil Sam-sam.

Mungkin dulu teman-teman masih ingat mengenai kaos C59 dan sempat menjadi ikon kota Bandung. Namun entah kenapa dalam perkembangannya desain-desain C59 tidak lagi menjadi Bandung pisan. Padahal di kota-kota lain seperti taiwan, macau, new york, bahkan nottingham mereka mem-branding-kan kotanya dengan desain hingga akhirnya bisa bersaing dengan kota lainnya.

Banyak desain-desain kreatif yang telah dibuat Mahanagari untuk mem-branding-kan kota Bandung. Dari ikon sunda si Cepot, Persib, bangunan art-deco hingga peta jalur angkot yang dibuat terbalik agar bisa dibaca dengan mudah oleh si pemakai.

Selain menjelaskan tentang bisnis desain dalam kampanye kota, tak lupa para sahabat Mahanagari ini memberikan tips-tips yang bermanfaat tentang mendesain dan bisnis kaos yang dilengkapi dengan fakta penjualan mereka.

Di akhir sesi, kang Hanafi yang sejatinya bukan Urang Bandung aseli mengajak teman-teman sahabat kota untuk mem-brainstorming ide di kepalanya tentang kota Bandung untuk di kampanyekan melalui sebuah kaos. Untuk proses brainstorming ini sendiri, teman-teman sahabat kota dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dengan jumlah lima orang.

Proses diskusi pun dimulai. Setiap orang mengeluarkan ide-ide dan harapan terhadap kota Bandung.

Setelah selesai brainstorming, setiap kelompok mempresentasikan desain-desain yang ingin disampaikan dalam kaosnya. Ada yang menceritakan tentang Bandung yang semakin panas, sampah di Bandung yang semakin banyak, pertarungan antara bangunan dan pohon, ada yang persib banget, bahkan ada yang ingin menampilkan cara membuat surabi yang enak. Hehehe…

Penampilan para sahabat Mahanagari akhirnya ditutup dengan tepuk tangan meriah dari teman-teman sahabat kota. Rabu belajar kali ini menambah inspirasi bahwa untuk berkampanye tidak harus berteriak-teriak di jalanan. Kaos pun bisa menjadi sebuah media yang efektif untuk menyuarakan kepedulian kita. Tentunya harus di desain dengan baik.

dipostkan pada 7 Februari 2010



Kisah Sukses Brand Joger

Satu lagi orang sukses di Indonesia yang berhasil menemukan bakat kecerdasannya melalui rangkaian kata-kata. Saya sering bertemu dengan orang yang pintar merangkai kata-kata atau istilah kerennya plesetan, namun tidak banyak yang menggunakan bakat ini dalam dunia bisnis.

Brand Joger salah satu fenomena di dunia Bisnis yang berhasil menanamkan brand pabrik kata-kata yang identik juga dengan pulau Bali. Maka dari itu tidak lengkap jika kita berlibur ke pulau Bali jika tidak mengunjungi Joger. Hampir tiap hari ribuan orang memenuhi show room Joger yang terletak di Jalan Raya Kuta. Terutama ketika musim liburan tiba, 17 kasir yang tersedia selalu berisi antrian panjang.

Hingga saat ini, Joger memiliki sekitar 150-an ‘anggota keluarga’ (sebutan untuk karyawan Joger). Usaha Joger mampu memberikan kesempatan kerja bagi banyak orang buangan termasuk orang cacat sehingga mereka mampu berkarya untuk hidup mereka. Jika dilihat sukses Joger saat ini, mungkin banyak yang tidak menyangka bahwa pemilik Joger bukanlah seorang yang berpendidikan tinggi S1 atau S2.

Pendiri Joger atau sering disebut Mr. Joger atau Pak Joger bernama Joseph Theodorus Wulianadi. Joger memiliki salam khas Selamat Pagi, tidak peduli apakah hari sudah siang atau malam. Nama Joger sendiri merupakan singkatan dari namanya, Joseph dan Gerhard Seeger. Gerhard adalah teman sekolahnya ketika di Jerman yang memberi US 20.000 sebagai hadiah pernikahannya.

Usaha Mr Joger dimulai dengan modal 500ribu pada bulan Juli 1980. Beliau mulai merangkai kata-kata sendiri, disablonkan kepada orang lain, memasarkan sendiridoor to door, gedor-gedor rumah orang dan hasilnya sekarang pembeli yang harus ngantri di Joger. Produk yang paling pertama ia hasilkan adalah kaos. Kaos itu dibuat dengan kata-kata, “Belanja tidak belanja tetap thank you”. Waktu itu masih menggunakan desain manual.

Menurut cerita Mr. Joger, 19 januari 1981 usahanya mulai menanjak. Ini ditandai dengan membuka toko di Jalan Sulawesi 37, Denpasar dengan nama Art & Batik Shop Joger. Kemudian selanjutnya Tahun 1983 membuka toko lain di jalan yang sama. Terakhir tahun 1986, Mr. Joger membuka toko di Jalan Raya Kuta hingga saat ini.

Namun Mr Joger malah ‘bertobat’ dan membatalkan niatnya untuk menjadi konglomerat. Dua toko di Jalan Sulawesi akhirnya ditutup Mr. Joger pada Tahun 1987 walaupun secara materi menguntungkan. Walaupun demikian saat ini sedang dibangun pusat Joger lainnya di daerah Baturiti, Tabanan Bali. Ini semata-mata karena toko Joger di jalan raya Kuta sudah terlalu sempit untuk menampung ribuan pengunjung tiap harinya.

Konsistensi Joger untuk mempertahankan Brand Joger di pulau Bali juga mampu mempertahankan hidup brand dan keaslian brand tersebut. Joger tidak bisa dibeli di luar pulau Bali, sehingga jika orang menggunakan Joger berarti pernah berlibur ke Bali. Kualitas kainnya pun tidak kalah dengan brand luar negeri seperti Billabong dan Quick Silver, namun harga merakyat untuk orang Indonesia.

Sekalipun begitu terkenal dengan limpahan materi yang cukup. Baginya itu tidaklah seberapa. Sukses tidak bisa diukur dari kekayaan materi. “Sukses itu adalah ketika kita bisa merasakan bahagia. Walau kaya dengan materi segunung kalau belum bahagia itu namanya belum sukses. Apalagi miskin dan tidak bahagia,” lontarnya sambil terkekeh.

Cara mengelola usahanya sendiri, Mr Joger mengaku tidak seribet dengan usaha lain. Dia seringkali membuat manajemen berjalan dengan sendirinya. Yang ada adalah pembagian kerja dari masing-masing ‘anggota keluarga’. Karena katanya, setiap orang adalah pemimpin. Mereka tahu tanggung jawabnya dan tahu maju mundurnya perusahaan ada di tangan masing-masing.

Usaha Mr Joger ini umumnya dikelola dengan sistem yang bertentangan dengan keumuman usaha. Misalnya dalam setiap produk dari usahanya selalu dibilang jelek. “Joger jelek,” tapi yang seperti ini justru yang disukai pembeli.

Dengan strategi pemasaran yang sering bertentangan dengan kelaziman, ternyata karir Mr Joger terus menanjak. Bahkan, hingga kini ia mengaku tidak pernah mengalami kemunduran. ‘Nggak pernah mundur. Malah maju terus,” tandasnya.

Sumber : Radar Bali



Joger: Sukses Melawan Arus

Saya mulai buka usaha pabrik kata-kata sekitar tahun 1980-an. Sebelumnya saya sempat menjadi pemandu turis karena latar belakang pendidikan saya adalah perhotelan. Dari sinilah ide awal pabrik kata-kata muncul. Untuk menjadi pemandu turis di Bali, harus ahli berbahasa Inggris. Dan orang sekarang malah dianjurkan bisa berbahasa Inggris; akibatnya sebagian masyarakat tidak memperdulikan bahasa sendiri. Saya melihat celah bisnis dalam masalah bahasa ini. Dengan mengolah bahasa Indonesia menjadi industri.

Dalam hal ini memang dibutuhkan keahlian mengolah kata-kata menjadi kalimat yang indah dan lucu, tapi tidak melanggar etika dan tata bahasa Indonesia. Bisa lihat di kartu nama saya. Bila orang mempunyai satu kartu nama, saya mempunyai empat kartu nama. Semuanya bertuliskan kalimat-kalimat yang enak dibaca dan didengar. Misalnya, kartu nama pertama bertuliskan, Mr. Joger, BAA & BSS (Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa), hanya sekadar pendiri Joger dan pencetus filosofi Garing. Bersedia melawan arus yang tidak benar, tapi juga bersedia ikut arus atau bahkan menjadi arus yang benar-benar maslahat.

Kartu nama kedua berbunyi, Mr, Joger, BAA & BSS, hanya pendiri Joger dan pencetus filosofi Garing, karena ketika saya pikir diri saya kreatif ternyata saya inovatif. Ketika saya pikir diri saya produktif ternyata produktivitas saya sangat tergantung pada banyak orang dan alat-alat. Ketika saya pikir diri saya kaya, ternyata banyak orang miskin yang belum sanggup saya bantu. Dan ketika saya pikir saya kuat, ternyata mengatur nafsu sendiri saja kewalahan?

Ketiga Mr. Joger, BAA & BSS, hanya sekadar pendiri Joger dan pencetus filosofi Garing yang tidak mau dan juga kebetulan tidak mampu untuk ikut berpolitik atau memperebutkan kedudukan maupun kekuasaan politik. Merah putih adalah bendera kebangg (s) aan saya. Untuk kartu nama selanjutnya bisa baca sendiri. Ini hanya sekadar kartu nama, yang bila mau direnungkan bisa juga bermanfaat untuk kehidupan.

Tak jauh beda dengan pengusaha lain, dalam mengembangkan usaha pasti ada rintangan. Lima belas tahun lalu saya diusir masyarakat karena dianggap gila. Sekarang mereka yang tergila-gila pada saya melihat hasil produksi kata-kata saya. Orang kadang tidak sadar bahwa perasaan itu lebih kuat dari kenyataan. Terus tahun 1994 saya dikatakan sebagai orang yang melecehkan bahasa Indonesia. Namun tahun 2000 saya mendapat penghargaan Adi Nugraha. Hanya dua orang yang mendapat penghargaan, pertama saya, kedua Pia Alisyahbana. Sepintas memang bisa sesak nafas bila mendengarkan omongan-omongan saya, namun bila diperhatikan secara mendalam, pasti akan terkagum-kagum.

Karena usaha saya menjual kata-kata, saya harus ahli mengolah kata yang akan digoreskan di baju dan pernik-pernik. Salah satunya, “mau mendapatkan surga di dunia carilah istri seperti wanita Cina yang ahli memasak, setia dan hormat pada suami seperti wanita Jepang, kemudian ahli bergoyang di tempat tidur seperti wanita malam”. Dalam mencari ide kata-kata, tidak perlu semedi atau meditasi. Bagi saya semua yang ada di alam ini adalah sumber inspirasi, bertemu dengan orang saja bisa menjadi bahan kata-kata.

Menajemen yang saya pakai adalah sistem kekeluargaan. Di mana tidak ada jarak antara atasan dan bawahan. Semuanya sama, karena kita sudah satu keluarga. Bahkan di sini tidak ada yang namanya karyawan. Yang ada hanya anak buah. Beda anak buah dengan karyawan terletak pada pola interaksi di mana antara atasan dan bawahan sama saja. Bukan berarti saya tidak pernah marah bila ada anak buah yang salah. Bisa marah tapi dalam rangka mencintai bukan membenci anak buah.

Ini perbedaan saya dengan pengusaha lain. Aturan yang saya buat boleh dilanggar asal bisa mempertanggungjawabkan. Undang-undang fungsinya untuk mengatur bukan untuk menganjurkan. Contohnya, dilarang tidur sewaktu bekerja, bukan berarti tidak boleh tidur. Boleh tidur dengan syarat minta ijin terlebih dulu.

Dulu saya pernah kemalingan. Selidik punya selidik, ternyata pencurinya anak buah saya sendiri. Tapi mereka tidak saya pecat. Saya nasehati saja. Saya katakan pada mereka, bila mau mencuri sebaiknya minta ijin terlebih dulu. Dari dulu kan sudah saya bilang, bila mau melanggar aturan harus minta ijin. Kalau sudah minta ijin dia tidak akan mencuri.

Dalam mencari anak buah, saya juga berbeda dengan pengusaha lain. Orang yang sudah berpengalaman negatif dengan pekerjaannya, misalnya sopir, saya mencari sopir yang pernah tabrakan. Kalau sudah pernah tabrakan, dia pasti akan hati-hati karena mengetahui betapa sakitnya tabrakan, dan dia pasti tidak akan menabrakkan mobil saya.

Bisnis bagi saya adalah bagaimana caranya “menipu” konsumen secara baik-baik, sehingga mereka merasa senang dan merasa tidak ditipu, dan datang lagi minta ditipu secara berkesinambungan. Marketing yang andal adalah orang yang sudah bisa mempengaruhi jiwa konsumen. Bukan lagi hanya kantongnya, sehingga orang tersebut tidak bisa berbuat apa-apa.

Kunci keberhasilan adalah kejujuran yang mengandung itikad baik. Dalam berusaha saya tidak selalu memikirkan untung. Keuntungan hanya membuat kita kaya secara meteri, namun tidak secara batin. Untuk apa kaya kalau tidak bahagia? Bukan berarti saya menganjurkan miskin. Akan lebih rugi bila sudah miskin tidak bahagia. Jadi tujuan hidup bukan miskin atau kaya, tapi bahagia.

Yang disebut bahagia adalah orang yang bisa berkarya untuk diri sendiri dan bermanfaat untuk masyarakat. Kalau mau kaya, usahakan jangan sampai orang lain menjadi miskin karenanya. Saya mempunyai filosofi, “lebih baik sedikit tetapi cukup daripada banyak tetapi kurang.” Miskin di sini saya artikan adalah cukup. Kalau sudah merasa sudah cukup, untuk apa memikirkan banyak?

Dalam hidup saya memakai sistem kompromi. Separuh untuk nafkah separuh lagi untuk kehidupan. Karena mencari nafkah itu belum tentu hidup. Apabila sudah bisa menikmati hidup, barulah namanya hidup. Hidup itu sebenarnya mudah karena Tuhan Maha Baik, Dia akan memberikan segala yang diminta hambanya. Manusia itu sering berbicara bahwa Tuhan Maha Tahu tapi mereka sok. Tuhan Maha Kuasa tapi kita sok kuasa akhirnya kita tidak mau rendah hati. Sebetulnya, kalau rendah hati, hidup ini jadi indah.

Selain mengelola Joger, saya juga sering menjadi pembicara di seminar-seminar. Saya sering mengungkapkan, kembangkanlah diri kalau mau percaya diri. Tapi sebelum mengembangkan diri, harus tahu diri. Jadi intinya adalah tahu diri, setelah itu percaya diri. Bagaimana bisa berusaha, bila tidak percaya diri dan tidak bisa mengembangkan diri?



Kisah Sukses Mr. JOGER

Orang kreatif adalah orang yang bisa memunculkan ide dan diterima orang lain dengan senang hati. Salah satunya adalah Joseph Theodorus Wulianadi alias Mr Joger, BAA, BSS (Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa). Pemilik pabrik katakata Joger ini bahkan disebut sebagai orang kreatif yang mampu memunculkan ide gila, aneh, menipu semua orang tapi bagaimana yang ditipu tidak merasa ditipu, dan malah merasa senang.

Berawal dari itikad baik untuk menjadi manusia yang baik, minimal tidak menjadi parasit di negeri tercinta atau tidak menjadi pengangguran atau menjadi beban bagi orang lain adalah motivasi awal bagi Mr Joger untuk merintis usaha. ”Saya ini kan bukan ahli bahasa. Saya juga bukan orang pintar. Tapi tampaknya saya punya keyakinan yang cukup untuk mendukung keberanian saya mengemukakan niat-niat baik melalui karya-karya saya yang jelek-jelek. Tapi bukan salah saya kalau ternyata banyak masyarakat dalam maupun luar negeri yang jatuh hati dan secara rutin mau membeli produk-produk Joger yang jelek-jelek tapi unik ini,” tegas Mr Joger.



Kiat Dagadu Jogja Membangun Branding Dengan Bertanya

Siapa tak kenal Dagadu, merk kaos asli Jogja ? Dalam perjalanan uniknya Dagadu mengalami banyak hal yang menjadikannya saat ini lebih dewasa sebagai brand. Barangkali kita bisa bilang Dagadu tidak (hanya) jualan kaos lagi. Tapi menjual kota Yogyakarta. Buktinya slogannya yang baru bukan “Kapan Beli Kaos Dagadu Lagi ? tapi “Kapan Ke Jogja Lagi ?” Inilah sebuah upaya “naik kelas” dari brand yang sudah menjadi ambassador sebuah destinasi.

Kami akan berbagi tentang kisah Dagadu dengan kiat-kiat menarik dari A. Noor Arief yang merupakan salah seorang pendiri Dagadu dan menjabat sebagai presiden direkturnya saat ini. Walau minggu lalu di akhir bulan Oktober dia datang di Bali, namun wawancara santai ini dilakukan sebelumnya lewat email.

“Creativepreneurship” adalah istilah yang tepat bagi Dagadu yang didirikan secara kolektif di Jogja ini. Kini pertarungan brand Dagadu bukan saja berada pada desainnya kreatif namun strategi dan bisnisnya. Semoga percakapan ini menggugah inspirasi kita.

KKB: Bagaimana asal muasalnya ada gagasan bikin kaos dengan nama DAGADU ? Inspirasinya dari mana ? Mengapa Kaos ?
Arief: Kelompok Dagadu Djokdja berawal dari sekumpulan individu yang memiliki kesamaan minat dalam masalah-masalah kepariwisataan, perkotaan dan apresiasi desain grafis. Hampir seluruh anggotanya adalah mahasiswa dan alumni Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada.

Nama “Dagadu-Djokdja” sebagai identitas kelompok tersebut baru muncul dan mulai digunakan saat peluncuran perdana produk-produk yang kami pasarkan di Lower Ground Malioboro Mall Yogytakarta, pada 9 Januari 1994. Kegiatan wirausaha yang dilakukan kelompok ini dengan memproduksi dan menjual produk “cinderamata alternatif dari Djokdja” (berupa kaus oblong, gantungan kunci, gambar tempel, topi dan pernak-pernik lain yang memuat rancangan grafis dengan tema-tema kepariwisataan dan lingkungan binaan kota Yogyakarta) pada mulanya lebih sebagai media penyaluran minat dan idealisme untuk menyampaikan gagasan-gagasan mengenai artifak, peristiwa, bahasa, serta living culture yang gayut dengan citra Yogyakarta melalui tampilan rancangan grafis yang menarik dan menggugah.

Nama “Dagadu-Djokdja” digunakan sebagai “merek dagang” sekaligus nama produsennya. Sebagaimana gagasan dan aktivitas spontan yang banyak terjadi pada kelompok ini pada saat memulai kegiatan wirausahanya, nama ini pun muncul tanpa alasan dan latar belakang yang jelas. Munculnya nama “Dagadu-Djokdja” pada saat-saat terakhir menjelang hari pertama penjualan sekadar didorong oleh kebutuhan praktis untuk memberi nama sebutan bagi sebuah produk, sama sekali jauh dari suatu strategi terencana dalam mengembangkan sebuah merek. Serangkaian penjelasan perihal nama tersebut baru disusun belakangan ketika sejumlah orang mulai menanyakan arti ataupun makna di balik nama dan gambar mata yang selalu mengiringinya. Dagadu, yang dalam bahasa slank anak-anak muda Yogyakarta berarti “matamu”, kemudian diberi penjelasan kurnag lebih sebagai berikut.

1. Dalam wacana desain grafis, figur mata adalah salah satu idiom yang digunakan untuk menggambarkan citra kreativitas. “Dagadu” yang dihadirkan melalui logo berbentuk-dasar mata diharapkan dapat mewakili pandangan kelompok yang selalu berusaha menempatkan kreativitas sebagai aspek utama dalam setiap aktivitasnya.

2. Citra mata juga diasosiasikan secara bebas dengan aktivitas sightseeing atau “cuci mata dengan berjalan-jalan keliling kota”. Ini diharapkan dapat merepresentasikan kepedulian kelompok ini terhadap masalah-masalah perkotaan dan kepariwisataan.

3. “Dagadu” sebagai kosa kata yang familiar dalam pergaulan informal di Yogyakarta, pada gilirannya diharapkan dapat mewakili citra produk sebagi cinderamata khas Yogyakarta. Penyertaan kata “Djokdja” sesudah kata “Dagadu” semakin memeperkuat citra ini.

Pertimbangan pemilihan kaos oblong sebagai produk utama tak lepas dari orientasi kegiatan wirausaha ini. Seperti telah diuraikan di muka, kegiatan wirausaha yang cenderung merupakan wahana penyaluran minat ketimbang sarana pencapaian laba, ini mengakibatkan perhatian pada sisi penawaran melebihi perhatian pada sisi permintaan. Pada gilirannya, hal ini berpengaruh pada pemilihan produk utama, yang secara lebih rinci dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Pertama, pengalaman merancang grafis (yang dapat diterapkan pada media semacam kaos oblong) telah dimiliki oleh para personel kelompok ini berkat kegiatan mereka selama tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Teknik Arsitektur UGM,

2. Kedua, proses produksi kaos oblong cenderung mudah dan murah. Hal ini penting mengingat keterbatasan modal yang ada,

3. Ketiga, kaos oblong merupakan media yang sangat fleksibel untuk bermain-main dalam mengungkapkan gagasan tematik maupun gagasan visual-grafis.

KKB: Pada saat itu bagaimana konsep desain kaosnya? Siapa yang mendesainnya ?

Arief: Konsepnya adalah bercerita tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan Jogja. Bagi kami, kota adalah sebuah cerita, dan Dagadu berupaya menuturkan lewat cinderamata yang dibuatnya, terutama oblong.

Seperti telah diuraikan pada bagian sebelumnya, aspek disain pada kegiatan wirausaha ini sangatlah signifikan mengingat peranannya dalam membentuk keunggulan produk. Untuk itu, produk Dagadu Djokdja harus menggunakan strategi disain yang spesifik pula. Secara garis besar, disain-disain yang dirilis oleh Dagadu Djokdja (terutama disain grafisnya) memiliki sejumlah karakteristik antara lain sebagai berikut.

1. Bergerak dalam khasanah budaya Jogja/Jawa

2. Mengangkat romantisme kota,

3. Menampilkan hal-hal keseharian yang bersahaja dan karena itu banyak terlewat dari perhatian melalui interpretasi baru,

4. Merangsang syaraf humor dan syaraf estetika,

5. Menertawakan diri sendiri.

KKB: Secara bisnis DAGADU itu katanya unik karena orang se Jogja jualan DAGADU. Tapi katanya yang dijual orang itu “tembakan” alias “bajakannya”. Lho, kok bisa ?

Arief: Itulah yang menyedihkan dari Jogja. Orang2 yang membuat dan menjual barang jiplakan itu mengalami gangguan kepercayaan diri yang akut, sehingga mereka merasa tidak bakal laku kalau mereknya bukan Dagadu. Padahal, mestinya mereka bisa berkreasi dan berkompetisi dengan cara yang lebih sehat dan bermartabat.

KKB: Jadi menurut mas Arief DAGADU itu bisa eksis karena apa?

Arief: Dagadu bisa eksis sampai saat ini hampir 15 tahun, antara lain karena kecerdasan para konsumennya yang bisa membedakan mana barang asli dan mana barang tiruan, he.he.he.
Dan mereka secara sadar telah mengapresiasi upaya2 kreatif yang kami lakukan dalam menghasilkan desain2 tersebut. Yang kedua, kota Jogja selalu punya cerita baru yang menarik untuk ditunggu-tunggu, ataupun cerita2 lama yang masih tetap asyik untuk dicerna.

KKB: Omzet dan profitnya udah bisa jadi apa mas ?

Arief: Wuah… cem-macem mas, he.he.he. Yang paling penting adalah bahwa selama ini Dagadu sudah bisa memberikan manfaat lahir dan batin bagi orang2 yang terlibat di dalamnya. Para pendirinya, karyawannya, para mitra binaannya, 600an mahasiswa di Jogja yang telah berpartisipasi dalam program Garda Depan selama 10 tahun ini ….

KKB: Lalu apa kiat-kiat DAGADU saat ini memosisikan produknya?

Arief: Posisi Dagadu adalah ”cinderamata dari Jogja”. Sebuah cinderamata haruslah sangat eksklusif hanya bisa didapatkan di lokasi yang direpresentasikannya. Terus terang, strategi tersebut juga datang tanpa kesengajaan. Awalnya, lagi-lagi, keterbatasan sumber-dayalah yang membuat kami tidak membuka gerai atau cabang di banyak lokasi. Ternyata, justru keterbatasan ruang dan lokasi penjualan, terbatasnya persediaan barang, dan membludaknya pembeli mengakibatkan adanya kerumunan besar terutama di masa-masa liburan sekolah. Kerumunan semacam ini segera menjadi fenomena yang banyak dibicarakan, yang berarti juga merupakan publikasi cuma-cuma. Banyaknya liputan media massa terhadap segala sepak terjang yang berkaitan dengan produk Dagadu Djokdja makin menggencarkan publikasi tersebut.

KKB: Maksudnya apa tuh ?

Arief: “Kapan Ke Jogja Lagi?(KKJL)” adalah langkah kecil dari Dagadu Djokdja untuk mengajak para alumni Jogja datang kembali mengunjungi almamater ini: bersua sobat lama, bertemu teman baru, mengenang cerita lama, merangkai harapan baru. “Kapan Ke Jogja Lagi? (KKJL)” juga hendak mengajak warga kota untuk menjadi tuan rumah yang lebih ramah lagi, dan Jogja menjadi rumah yang lebih nyaman lagi. Lebih humanis lagi. Lagi dan lagi!

Serangkaian kegiatan kita laksanakan untuk mendukung progam KKJL tersebut. Tidak saja berbagai bentuk promosi untuk mengajak orang datang ke Jogja, namun juga berbagai persuasi dan edukasi bagi warga kota Jogja untuk menjadi tuan rumah yang ramah bagi tamu-tamunya.

KKB: Apakah ada kesamaan antara DAGADU yang awal dengan sekarang secara spirit?

Arief: Alhamdulillah, tidak ada yang berubah. Kami sangat serius untuk terus-menerus menjaga semangat bermain2 kami. Semoga masih akan terus bertahan sampai nanti…

KKB: Apa sih cita-cita DAGADU ini menurut yang punyanya…

Arief: sangat simpel. Kami cuma ingin tetap menjadikan kreativitas sebagai aspek utama dalam setiap kegiatan kami, dan memberi manfaat bagi lingkungan yang lebih luas.


Nama lengkap: A. Noor Arief

Jabatan: Direktur PT Aseli Dagadu Djokdja
Alamat: Jl. Pakuningratan 15-17 Yogyakarta

Pendidikan: Arsitektur UGM.
Website:
Dagadu Kapan Ke Jogja Lagi ?



Sukses Dagadu dan Raxzel Lewat Kaos Oblong

Bisnis ternyata tidak se-njelimet yang dibayangkan. Eksistensi Dagadu dan Raxzel, merek oblong dalam negeri, nyatanya lahir tanpa proses perencanaan dan strategi panjang. Kuncinya hanyalah passion dan take action!

Merek Dagadu Djokdja begitu melekat bagi masyarakat Yogyakarta dan pecinta kaos oblong. Perjalanan usaha ini dirintis dari keresahan sejumlah mahasiswa kreatif dari kampus Universitas Gadjah Mada pada awal 1994. Mulanya, mereka ingin menyampaikan minat dan idealisme tentang gagasan mengenai artefak, peristiwa, bahasa, serta budaya masyarakat Yogyakarta melalui rancangan grafi s yang nyeleneh dan nyentrik, sekaligus membuat penasaran. Uniknya, media yang dipilih adalah kaos oblong.

Direktur dan pendiri PT Aseli Dagadu Djokdja, A. Noor Arief kepada Majalah Human Capital berbagi bagaimana Dagadu bisa eksis selama lebih dari 15 tahun. Arief menceritakan sebutan “Dagadu-Djokdja” merupakan brand atau merek dagang sekaligus nama produsen. Arief mengakui, sebagaimana gagasan dan aktivitas spontan yang terjadi pada kelompok anak-anak muda kreatif saat memulai kegiatan wirausaha, Dagadu Djokdja pun muncul tanpa alasan dan latar belakang yang jelas.

“Nama tersebut muncul di saat-saat terakhir menjelang hari pertama penjualan. Itu pun hanya didorong oleh kebutuhan praktis untuk memberi nama sebutan bagi sebuah produk, jauh dari strategi terencana dalam mengembangkan sebuah merek,” tuturnya. Arief menambahkan, serangkaian penjelasan perihal nama tersebut baru disusun belakangan ketika sejumlah orang mulai menanyakan arti ataupun makna di balik nama dan gambar mata yang senantiasa menempel di setiap produk Dagadu.

Menurut Arief, Dagadu dalam bahasa slengean anakanak muda Yogyakarta berarti “matamu”. Di kemudian hari nama ini diberi penjelasan. Pertama, dalam wacana desain grafi s, fi gur mata adalah salah satu idiom yang digunakan untuk menggambarkan citra kreativitas. Dagadu yang hadir melalui logo berbentuk dasar mata diharapkan dapat mewakili pandangan kelompok yang selalu berusaha menempatkan kreativitas sebagai aspek utama dalam setiap aktivitasnya.

Arti Dagadu yang kedua adalah, citra mata diasosiasikan secara bebas dengan aktivitas sightseeing atau cuci mata dengan berjalan-jalan keliling kota. Ini diharapkan dapat merepresentasikan kepedulian kelompok ini terhadap masalah-masalah perkotaan dan ke pariwisataan. Sedangkan arti lain dari Dagadu adalah sebagai kosa-kata yang familiar dalam pergaulan informal di Yogyakarta. “Hingga pada gilirannya diharapkan dapat mewakili citra produk sebagai cinderamata khas Yogyakarta,” imbuh sarjana arsitek ini.

Arief menyebutkan, Dagadu saat ini memiliki 9 orang tenaga design creative dari 50 orang karyawan di semua divisi. Dalam hal pengelolaan SDM, Arief berterus terang tidak mempunyai strategi khusus. “Paling kami menciptakan iklim bahwa Dagadu itu menjadi rumah bagi karyawan, pendiri, dan mitra binaan,” sambungnya. Perjalanan panjang memang tidak dipungkiri Arief menjadikan Dagadu makin dewasa dalam urusan bisnis.

Namun demikian, hal yang paling dikhawatirkan Arief ternyata justru masalah rutinitas. “Rutinitas adalah musuh dari inovasi, sehingga kami merasa perlu membuat semacam terminal untuk memutuskan rutinitas dengan kegiatan bersama seperti outing dan lainnya,” ia menjelaskan.

Mengenai SDM kunci di Dagadu, Arief tidak terlalu ambil pusing bila ada karyawannya yang diambil perusahaan lain. “Kami bersyukur Yogyakarta ini memberikan atmosfi r yang baik sehingga belum pernah ada bajak-membajak talent. Yang ada karyawan justru resign karena ingin mengembangkan diri. Kalau untuk urusan ini, justru kami sangat mendukung dan mendorong. Malah di antara mereka banyak yang menjadi mitra kerja Dagadu,” tuturnya.

Di lain tempat, cerita Try Atmojo dalam membesarkan kaos oblong bermerek Raxzel tidak berbeda jauh dengan Dagadu. Pada awalnya Try tidak berpikir jauh untuk terjun dan menekuni bisnis kreatif. “Saya terpikir untuk mulai bisnis ini karena dari pengamatan dan survei kecil-kecilan di industri ritel fashion. Kenapa memilih berwirausaha, karena jalur ini yang relatif paling mudah untuk mulai, hanya diperlukan keberanian, keyakinan, dan ketajaman feeling yang bisa diasah. Hal-hal lainnya bisa learning by doing,” katanya.

Try menjelaskan strategi awal dan tahapan yang dia lalui dalam memulai bisnisnya. “Bisnis distro adalah bagian dari bisnis ritel fashion pada umumnya. Karena berkonsep independent store, mau tidak mau saya harus mencari dan memilih lokasi yang tepat,” katanya. Target market distro adalah anak-anak ABG dan anak-anak kuliahan. Karena itu, Try melanjutkan, dalam memilih lokasi store ia mencari tempat yang banyak didatangi anak muda, bisa di perumahan, mal atau tempat hangout favorit anak-anak muda.

Ia menambahkan, selain memilih lokasi, strategi khusus untuk bisnis distro terletak pada bagaimana pemiliknya mengonsep dan mendesain layout toko, memilih jenis barang, membangun promosi, serta membaca tren mode. Saat ini Try mengoperasikan enam gerai distro di wilayah Tangerang dan sekitarnya. “Target khusus 2010 adalah mengembangkan brand Raxzel agar semakin dikenal di industri ini, baik dari segi kualitas maupun distribusinya,” ujar Try berharap.

Dari sisi SDM, Try mengakui bahwa industri kreatif memerlukan SDM yang unik. “Memang industri ini tidak terlepas dari pertemanan serta komunitas. Dalam hal rekrutmen di posisi tertentu seperti desainer dan creative, misalnya, memang agak selektif. Ini karena terkait dengan selera dari konsep brand produk kami,” katanya menjelaskan.

Try meneruskan, untuk posisi lain seperti store manager dan staf toko, perekrutan dilakukan dengan mencari SDM yang lebih dekat dengan target konsumen dan berpengalaman. “Sedangkan untuk pengembangan karyawan dan upaya mempertahankan mereka, secara regular kami selalu berdiskusi, studi banding dan memberikan informasi-informasi terkini tentang industri ini, selain dengan pola reward dan membangun ikatan personal,” tuturnya.

Soal perencanaan produk di Raxzel, Try menyebutkan, jangka waktunya relatif lebih pendek. “Siklus industri ini berkonsep limited produk. Dalam satu design kami hanya memproduksi maksimal 60 pieces. Karena itu kami harus terus-menerus meng-update tren-tren terbaru. Caranya dengan banyak bergaul, surfi ng internet, dan lain-lain,” ujarnya.

Sementara itu, Arief menuturkan, di Dagadu dalam setahun penanggalan tidak dilakukan pembagian tema model. “Biasanya kami menyikapi dari topik yang ramai diperbincangkan. Pesannya sederhana, kami ingin menunjukkan kepedulian namun tidak lantas ikut-ikutan atau latah. Justru di situlah tantangannya. Kami saat ini tengah mengumpulkan ide-ide yang akan diangkat untuk 2010 mendatang,” ungkapnya.



Dagadu Djokdja : 14 Tahun Plesetkan Yogyakarta


Oleh: Gonang Susatyo

'KAPAN ke Jogja Lagi?' Itulah bentuk kampanye pariwisata terbaru dari Dagadu Djokdja, mengajak pelancong kembali ke Yogyakarta. Kampanye itu sejalan dengan Visit Indonesia Year 2008. Mengapa Dagadu bersemangat mempromosikan pariwisata?

"Kami dikritik kalau Dagadu Djokdja dinilai sudah berorientasi pada bisnis dan hanya mengejar profit. Kami dianggap melupakan gagasan awal saat pertama kali muncul sebagai kumpulan orang yang peduli pariwisata Yogyakarta," urai Daniell Alkam, Marketing Communication Officer (MCO) PT Aseli Dagadu Djokdja yang memproduksi kaos dan berbagai merchandise .

"Kritikan itu kami jadikan sebagai introspeksi. Karena itu, kami kembali giat mempromosikan wisata Yogyakarta. Kami mengajak para wisatawan kembali ke sini. Apalagi, Dagadu Djokdja memang diposisikan sebagai wisata alternatif di Yogyakarta," lanjutnya.

Wisata alternatif diibaratkan sebagai pilihan lain bagi wisatawan untuk berbelanja yang biasanya mengunjungi sentra batik, kerajinan perak, Malioboro, bakpia, gudeg dan sejenisnya. Dagadu Djokdja memang tak sekadar identik dengan oblong plesetan. Mereka memiliki komitmen kuat memajukan pariwisata Yogyakarta.

"Para mahasiswa yang menjadi pioner Dagadu Djokdja sama-sama punya minat pariwisata. Pilihan mereka adalah mempromosikan wisata Yogyakarta melalui oblong," kata Daniell lagi.

Kreativitas plesetan mereka ternyata meledak. Kini, 14 tahun sudah mereka sukses memplesetkan Yogyakarta. Produk mereka tak hanya oblong, tapi juga beragam merchandise seperti pin, topi, dompet, mug, kunci, striker, sweater dan banyak lagi.

Dengan konsep menjadi cinderamata alternatif, Dagadu Djokdja telah menjadi oleh-oleh khas Yogyakarta. Gerai mereka pun berkembang menjadi tiga, Posyandu (Pos Pelayanan Dagadu) di Malioboro Mall, UGD (Unit Gawat Dagadu) di Pakuningratan dan DPRD (Djawatan Pelajanan Resmi Dagadu) di Ambarukmo Plaza.

"Ada satu lagi yaitu gerai maya yang disebut pesawat atau Pesanan Lewat Kawat. Kami melayani pembelian secara online. Di Ambarukmo Plaza, kami membidik para penumpang pesawat yang kadang-kadang harus menunggu di bandara sampai dua jam setelah boarding. Mereka tentu bosan karena kelamaan menunggu. Sebaliknya, untuk ke Malioboro sudah tidak ada waktu lagi. Dari survei kecil-kecilan, mereka biasanya pergi ke Ambarukmo Plaza. Itu yang menjadi alasan mengapa kami membuka gerai di sana," jelas lulusan Fisipol UGM ini

Dagadu Djokdja merupakan kisah sukses yang sesungguhnya berawal dari sebuah keisengan ketika sekitar 25 mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM) ditawari membuka kios kakilima di Malioboro Mall pada 1994. Untuk itu, mereka melakukan bantingan (patungan) sampai akhirnya terkumpul Rp4 juta yang kemudian dijadikan modal awal. Bagi mahasiswa, uang segitu sudah sangat besar. Apalagi, saat itu harga sepiring nasi dengan lauk sepotong ayam cuma Rp700.

Dengan modal empat jutaan, mereka memproduksi cinderamata kaos oblong khas Yogyakarta. Oblong dengan desain kreatif dan penuh plesetan. Mengapa oblong dan plesetan? "Ada dua hal yang identik dengan mahasiswa. Mereka gemar memakai kaos oblong dan suka plesetan," kata Daniell.

Pada 19 Januari 1994, mereka membuka 'dasaran' di lower ground Malioboro Mall. Dan, saat itu pula dijadikan sebagai hari lahir Dagadu. Untuk menunjukkan lokalitas asal cinderamata, kemudian ditambahkan kata 'Djokdja' dengan ejaan lama. Kini, omzet mereka mencapai Rp15 miliar per tahun. Sebuah pencapaian yang luar biasa di usia 14 tahun mereka.

"Pada hari-hari biasa, kami bisa menjual 2.000-3.000 oblong setiap bulan. Belum merchandise lainnya. Saat musim liburan seperti Lebaran atau Tahun Baru, penjualan kami bisa menyentuh 5.000 potong," kata Daniell yang mengaku sempat direpotkan dengan bermunculannya produk-produk imitasi yang bertebaran di setiap sudut kota.

"Kami sempat resah juga karena muncul image bahwa produk kami banyak yang dipalsu. Bahkan ada satu wilayah yang mengklaim sebagai pusat Dagadu asli. Mobil ULC (Unit Layanan Cepat) kami yaitu armada mobil untuk layanan di luar gerai sampai tak berani melewati daerah itu," jelasnya.

"Kami akhirnya sepakat mereka punya segmen tersendiri. Kami menyebutnya sebagai amal wisata karena memberi rezeki dengan orang lain. Kita saling toleransi karena sama-sama cari makan. Apalagi omzet penjualan kami juga tak terlalu terganggu, bahkan menunjukkan tren yang menanjak. Selain itu, kehadiran produk palsu mendorong kami untuk terus berkreativitas," tambah Daniell.

Sebuah penyelesaian konflik khas masyarakat Jawa dengan mengutamakan toleransi. Dagadu Djokdja telah sukses membangun citra. Menyebut kota pelajar itu, pikiran akan dibawa pada Dagadu Djokdja dengan produk yang bercitra smart, smile & Djokdja. Kapan ke Jogja Lagi? [I4]



Mahanagari

“Semua orang suka yang aneh-aneh. Semua orang suka yang unik-unik. Itu senjata kita.”
Ben Wirawan S, Co-Founder & Director Mahanagari


Mahanagari adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi merchandise dengan mengangkat tema budaya lokal. Keunggulan produk utama Mahanagari adalah t-shirt dengan desain-desain kontemporer yang seringkali nyeleneh, menggelitik sekaligus memiliki misi sosial.

Dengan tagline 'Bandung Pisan' (arti: Bandung banget) Mahanagari berhasil menjadikan kaos oblong sebagai media kampanye budaya. Sehingga produk-produk mereka tidak hanya menjadi suvenir bagi wisatawan, tapi juga dapat meningkatkan pengetahuan, kecintaan dan kepedulian warga kota terhadap kotanya sendiri. Didirikan oleh Ben Wirawan S dan Hanafi Salman pada tahun 2005, produk Mahanagari lainnya dapat kita temukan juga dalam bentuk gantungan kunci, pin, mug, kartu pos, dan lain-lain.
Dengan konsepnya yang khas tersebut kini Mahanagari bisa meraih omzet ratusan juta rupiah per bulan. Selain itu Ben dan Hanafi juga berhasil menjadikan Mahanagari sebuah ikon brand bagi kota Bandung.

Ide Mahanagari

Nama Mahanagari sendiri diambil dari paduan dua kata dalam bahasa Sansekerta, yaitu 'maha', yang artinya besar, dan 'nagari' , yang artinya negara. Pilihan bahasa Sansekerta sengaja diambil karena Sansekerta merupakan akar dari semua bahasa di Indonesia. Nama tersebut dipilih karena menurut Ben kelak dia ingin produknya tidak hanya mengangkat tema tentang kota Bandung, tapi juga kota-kota lain di Indonesia.

Sementara ide berdirinya Mahanagari serta bagaimana perusahaannya berjalan berawal dari pengalaman pahit dan juga berbagai “kecelakaan”. Pada tahun 1998 ketika Ben hendak melakukan studi di Singapura dia mencari suvenir kota Bandung untuk acara tukar kado dengan pelajar-pelajar dari negara lain.
“Saya sudah mencari ke seluruh Bandung, tapi tidak menemukan satu pun barang yang bisa dibawa sebagai cinderamata. Yang ada paling hanya wayang, tidak ada yang kontemporer” kisah Ben.
Menurut Ben t-shirt adalah sebuah bahasa standar yang universal untuk menunjukan identitas dari mana kita berasal. Dari pengalaman kesulitan mencari cinderamata itulah Ben mendapatkan ide untuk membuat Mahanagari.

“Pada awalnya memang ada beberapa merek yang memproduksi kaos bertemakan kota Bandung, tapi tidak ada yang bertahan di line tersebut. Tidak ada yang mengarapanya secara serius” papar Ben.
Untuk itu Ben dan Hanafi harus melawan arus pasar. Memulai menjual produk Mahanagari sambil mengenalkan konsepnya merupakan suatu tantangan tersendiri.

”Kita harus menggabungkan antara idealisme, kreatifitas dan industri. Dan itu tidak mudah, semua orang pesimis. 80% orang yang kita temui, pada awalnya mengatakan bahwa usaha ini tidak akan berhasil” jelas Ben.

Banyak orang menyarankan Ben untuk meninggalkan konsepnya dan memproduksi kaos-kaos distro yang sedang digemari pada saat itu. Lebih jauhnya Ben menggambarkan awal berdirinya Mahanagari dengan analogi sebuah lorong.

“Kalau orang bilang di ujung lorong biasanya ada secercah cahaya, waktu itu kita tidak melihat cahaya apapun. Semuanya gelap dan panjang, baru setelah dua tahun kita melihat secercah cahaya”
Perjuangan Ben dan Hanafi membuat mereka berjualan kaos-kaos Mahanagari di kereta api Parhayangan jurusan Bandung-Jakarta. Pada awalnya Ben menjelaskan bahwa mereka memang belum percaya diri.

Pada tahun 2001 dari lima desain awal mereka memproduksi 250 t-shirt, selain dijual langsung mereka juga menitipkan produk-produk Mahanagari di daerah Braga dan Setiabudhi, tempat dimana banyak terdapat wisatawan asing juga ekspatriat.
Strategi Mahanagari mulanya memang hanya menargetkan pasar untuk bule, tapi kemudian belum lagi setahun berjalan terjadi tragedi Bom Bali pada tahun 2002. Tidak ada lagi turis asing. Penjualan mereka langsung turun drastis 75%. Karenanya Mahanagari pun berhenti berproduksi. Mengambil perkataan Ben, Mahanagari tiarap. Tapi untungnya hanya sementara karena ada sebuah “kecelakaan” yang diikuti “kecelakaan”-”kecelakaan” lain yang membuat Mahanagari bangkit.


“Kecelakaan” Yang Maksimal

“Di Mahanagari konsepnya selalu 'kecelakaan', tapi kita bisa membuat 'kecelakaan' tadi menjadi sesuatu yang maksimal” terang Ben.

“Kecelakaan” yang pertama terjadi di akhir tahun 2004, Ben dan Hanafi memiliki seorang teman yang tidak sengaja meminjam modal terlalu banyak ke bank. Dia lalu menawarkan kelebihan modal itu pada Ben dan Hanafi dengan syarat untuk menghidupkan kembali Mahanagari.

“Saya bilang pada Hanafi, kita mau memulai lagi Mahanagari asal dengan perbedaan yang mendasar”

Ben dan Hanafi menyebut kebangkitan Mahanagari pada tahun 2005 itu dengan Mahanagari jilid 2. Perbedaan mendasar itu adalah dengan membagi persentase 50-50 untuk target market mereka antara turis dan penduduk lokal. Selain itu kebetulan juga jalan tol Cipularang baru dibuka, sehingga tercipta juga peluang untuk menggarap pasar turis domestik.

“Kecelakaan” yang kedua adalah tentang desain. Mahanagari sangat terbuka untuk menerima desain t-shirt dari siapapun. Hingga kini setidaknya ada lebih dari 60 desain t-shirt yang pernah dihasilkan oleh Mahanagari. Meskipun desain merupakan kekuatan utama dari produk Mahanagri, tapi mereka berhasil hanya dengan memiliki dua orang desainer di dalam perusahaan.

“Ceritanya waktu awal-awal kita masih kekurangan desain (untuk t-shirt), terus kita kontak teman-teman kita. Kita jelaskan konsep kita, lalu kita tanya ke mereka kira-kira bisa membuatkan desainnya atau tidak” terang Ben.

Semenjak itu mereka terus menjalankan kebijakan tersebut, dan dari hasil desain t-shirt orang lain itu ternyata banyak yang menjadi best-seller. Hal ini menjadi solusi yang saling menguntungkan, karena disainer 'dari luar' itu terus mendapatkan royalti jika kaosnya laku terjual, sementara dari sisi perusahaan mereka tidak memerlukan banyak desainer.

Menurut Ben jika dalam sebulan ada dua sampai tiga desain yang dihasilkan itu berarti sudah bagus. Dalam desain Ben juga mempelajari terdapat perbedaan antara konsumen perempuan dan laki-laki.

“Bagi perempuan yang penting itu cuting (potongan t-shirt), warna, baru desain. Sementara buat laki-laki yang penting desain dulu, baru warna.” ungkap Ben.


Dari hasil desain-desain tersebut Mahanagari mulai mendapat liputan dari media massa, terutama desain-desain t-shirtnya yang nyeleneh dan menggelitik. Sejak itu merk Mahanagari mulai semakin dikenal masyarakat, dan liputannya pun semakin meluas hingga ke media massa nasional.
Mengenai desain-desain tersebut Ben menjelaskan bahwa: “Semua orang suka yang aneh-aneh. Semua orang suka yang unik-unik. Itu senjata kita.”

Walaupun begitu desain yang dibuat harus matang dan dapat dipertanggung jawabkan karena edukasi yang disampaikan harus sampai pada konsumen.


“Kecelakaan - Kecelakaan” Lainnya

“Kecelakaan” yang berikutnya adalah mengenai konsep 'Local Genius', dimana Ben dan Hanafi mengumpulkan tokoh-tokoh dan orang-orang Bandung yang kompeten di bidangnya untuk menjadi model t-shirt mereka sebagai ajang promosi produk-produk Mahanagari.

“Itu gara-gara saya diajak pameran oleh Isa Perkasa (seorang seniman) tentang kaos oblong. Tapi kalau cuma memamerkan disain kaos saja, hasilnya akan cuma seperti showroom. Karena itulah muncul ide untuk memajang foto para 'Local Genius' sambil mengenakan kaos Mahanagari”


Disamping memotret para 'Local Genius' itu, dalam pameran yang diadakan pada tahun 2007 tersebut, Mahanagari juga menerangkan prestasi-prestasi mereka. Sehingga sampai sekarang penggarapan konsep 'Local Genius' itu terus mereka jalankan. “Kecelakaan” ini menjadi solusi bagi Mahanagari, karena selain mereka merasa tidak mampu untuk membayar model betulan untuk promosi, dengan cara ini juga Mahanagari konsisten dalam mengedukasi masyarakat.

“Kecelakaan” yang berikutnya adalah wiraniaga Mahanagari atau yang biasa mereka sebut dengan 'wiga'. Dari sejak Mahanagari berdiri terhitung ada 12 tempat yang pernah mereka gunakan sebagai lokasi penjualan. Tapi dari 12 lokasi itu hanya satu yang bertahan, yaitu yang terletak di pusat perbelanjaan Cihampelas Walk. Dan sejak itu juga mereka hanya menggunakan mahasiswa sebagai tenaga wiraniaga paruh waktu.

“Awalnya gara-gara toko sudah mau buka, tapi kita belum mendapatkan orang untuk berjualan. Karena saya dulu dosen, jadi saya menawarkan mahasiswa-mahasiswa saya untuk mendapatkan uang tambahan”

Tapi ada maksud baik dibalik penggunaan mahasiswa sebagai 'wiga' tersebut. Ben sebenarnya berharap dia dapat menularkan jiwa entrepreneur pada para mahasiswa. Selain itu dia juga berharap kampanye budaya Mahanagari dapat tersebar lewat efek 'ketuk tular' (word of mouth) melalui 'wiga' ke teman-temannya.


Social Entrepreneur

Diluar penjualan merchandise Mahanagari kerap mengadakan kegiatan-kegiatan sosial. Contohnya: pameran, tur sejarah kota, wisata budaya, diskusi publik bahkan hingga membuat film tentang Bandung. Hal ini dilakukan Mahanagari sebagai upaya untuk melakukan kampanye budaya yang seutuhnya.
Di sisi lain kegiatan-kegiatan tersebut memiliki banyak manfaat bagi Mahanagari. Pertama, sebagai ajang promosi.

“Karena acara-acara seperti itu akan diliput oleh wartawan. Wartawan pasti butuh berita. Baru-baru ini saja kegiatan kita main ke (situs) Gunung Padang dan diliput oleh National Geographic Traveller” jelas Ben.
Kedua, kegiatan-kegiatan itu menciptakan loyalitas konsumen. Para konsumen yang memiliki kepedulian yang sama terhadap persoalan-persoalan kota dan budaya mendapatkan sebuah wadah komunitas baru.

Yang terakhir, karena Ben dan kru Mahanagari lainnya memang senang bertualang. Dan, mereka selalu aktif untuk mengajak orang-orang juga menceritakan kembali petualangan mereka tersebut dalam berbagai media.

Oleh karenanya, tidak salah jika Mahanagari yang ditukangi Ben dan Hanafi ditasbihkan sebagai 'social entrepreneur', suatu tipe pengusaha yang masih terbilang langka.


Mahanagari Ke Depan

Mahanagari kini telah mendapatkan beberapa penghargaan, seperti Gold Award dalam Indonesian Good Design Selection 2008 yang diserahkan langsung oleh Presiden SBY. Juga penghargaan dari Gubernur Jawa Barat untuk Perusahaan Kreatif Prospektif 2007 dan Desain T-Shirt Terbaik 2008. Terakhir, mereka dimasukan kedalam daftar 200 ikon kota Bandung pada tahun 2010 ini.
Menurut Ben keberhasilan itu dapat diraih karena dia percaya bahwa setiap orang dikaruniai kreatifitas, apalagi dalam keadaan tertekan. Dia juga berpendapat manusia itu lebih sering menghitung kegagalan, tapi jarang sekali menghitung keberhasilan.

Dalam menghadapai kegagalan di sepanjang perjalanan Mahanagari, Ben mengatakan: “Evaluasi, lalu peluk aja. Deal with it”

Karena menurutnya dalam setiap kegagalan, selalu tersimpan sebuah pintu yang dapat membawa keberhasilan. Mereka sendiri adalah buktinya.

Untuk ke depannya kini Mahanagari masih berusaha untuk mewujudkan cita-citanya mengangkat tema tentang kota-kota lain di Indonesia, seperti arti dari Mahanagari itu sendiri.


BIODATA

NAMA PERUSAHAAN : CV Mahanagari Nusantara

KANTOR & STUDIO : Jalan Dangdeur Indah I no 11, Bandung 40163, Indonesia

OUTLET : Cihampelas Walk


PENGHARGAAN
- Gold Award – Indonesian Good Design Selection 2008.

- Penghargaan Gubernur Jawa Barat untuk Desain T-Shirt terbaik 2008

- Penghargaan Gubernur Jawa Barat untuk Perusahaan Kreatif Prospektif 2007.


PAMERAN
"Kaos Oblong dan Musik Odong", Galeri Rumah Teh - Dago Tea House, Bandung, 2007

"Kala Bandung", Taman Cikapayang-Dago dan kaki jembatan layang Pasupati, Bandung 2009


BIOGRAFI PENDIRI

Nama : Ben Wirawan S (Samarinda, 8 Mei 1976)

Pendidikan :
- Program Studi Desain Produk ITB (1994)

- International Marketing and Small Medium Enterprises Management (Non Degree Program), Faculty of Business Administration, National University of Singapore – Singapore (1998)


Nama : Hanafi Salman (Bukit Tinggi, 14 Februari 1976)

Pendidikan : Program Studi Desain Produk ITB (1994)



C59: Berawal Dari Gang, Kini Merambah Mancanegara

Tumbuh dan berkembang dengan gaya manajemen warteg. Begitulah Marius Widyarto, pemilik usaha t-shirt yang terkenal dengan merek C59. Perusahaannya dikembangkan secara alami, dengan mengerjakan apa yang bisa dikerjakan. Perusahaannya tumbuh karena kebutuhan dan tidak pernah terpikirkan mengembangkan usaha secara spekulatif. Ternyata, gaya manajemen sederhana ini justru menghantarkan C59 bukan saja merajai industri kaus di Indonesia, tapi juga menembus pasar Eropa.

Widyarto memulai usahanya dari rumah tinggalnya yang berukuran sekitar 60 m2 di Gang Caladi 59. Bermodalkan hasil penjualan kado pernikahannya dengan Maria Goreti Murniati, lelaki yang biasa dipanggil Mas Wied itu memulai usahanya pada 1980. Hasil penjualan kado itu digunakan untuk membeli mesin obras dan mesin jahit.

Widyarto menggunakan nama gang rumahnya, Caladi 59 — disingkat C59 — sebagai merek kausnya. Ini dimaksudkan agar merek tersebut mudah diingat, dan pemesan lebih yakin dengan produk yang ditawarkannya karena alamatnya jelas. Nama itu juga cermin komitmennya pada kaus buatannya. Jika kualitasnya buruk, orang bisa saja langsung menimpuki rumahnya. Layaknya usaha baru yang hanya dibantu tiga karyawan, selain mencari order, ia juga ikut mendesain, memilih bahan, memotong, menjahit, menyablon sampai finishing. Order banyak didapat dari pesanan sekolah atau instansi. Karena banyaknya pesanan dari Jakarta, ia membuka cabang di Jalan Mendawai pada 1982.

Usahanya meningkat ketika ia mendapat pesanan besar dari Nichimen — perusahaan Jepang yang bergerak di bidang insektisida. Mereka memesan kaus untuk dibagi-bagikan pada para petani. Ordernya, 3 ribu potong/bulan. Semakin lama order yang diterima semakin deras mengalir. Peningkatan omset terasa setelah C59 turut serta dalam kegiatan Air Show 1986 di Jakarta, yang juga diikuti peserta dari beberapa negara lain. T-shirt C59 dibawa pulang oleh para peserta ke negara masing-masing. Ia pun mulai merambah dunia ritel. Di bisnis ini, awalnya Widyarto menjual sisa order yang tidak memenuhi syarat. “Itu kan peluang, kenapa tidak dikembangkan,” tandas jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Parahyangan ini.

Ketika Bank Niaga memesan t-shirt pada 1993, ia mendapatkan keuntungan ganda. Selain bisa menjual produknya, Robby DJohan yang saat itu menjabat Dirut Bank Niagam, menawarkan pinjaman untuk mengembangkan usaha. “Sebelumnya, boro-boro ada tawaran pinjaman, mau pinjam saja susah,” kenang pria kelahiran Banjarmasin, 19 Januari 1956 yang berdarah Jawa ini. Ia menerima tawaran Robby, dan menggunakan pinjaman itu untuk membangun pabrik, di atas tanah seluas 4.000 m2 di Cigadung, Bandung.

Di tahun yang sama, bentuk usaha C59 diubah menjadi PT dengan nama PT Caladi Lima Sembilan. Dan sejak saat itu, Widyarto melibatkan desainer ahli, baik lulusan sekolah desain maupun otodidak. Usahanya pun dibagi menjadi beberapa divisi, yakni Divisi Desain, Pengembangan Produksi, Pemasaran, Pemesanan, Ritel dan Produksi. Pembenahan manajemen ini dilakukan untuk meningkatkan profesionalitas dalam mengelola usahanya.

Usaha ayah dua putra ini terus berkembang. Lokasi usahanya tidak lagi di rumah kecil di Gang Caladi. Ia membeli rumah-rumah di sekelilingnya, yakni rumah di Jalan Tikukur 10, 8, 9, 4 dan 7. Sebagian dijadikan kantor dan showroom produknya. Selain itu, ia mulai membuka showroom di daerah lain, seperti Balikpapan, Bali, Yogya, Makassar, Padang, Lampung, Medan dan Malang (1993/94). Kausnya pun mulai memasuki Ramayana Dept. Store. “Berikan yang terbaik,” ia menegaskan kiatnya menggapai sukses.

Pemilihan tema pun selalu disesuaikan dengan perkembangan zaman. Misalnya, I`m Allergic to Work atau Antiteroris. Itulah sebabnya, C59 digemari konsumen. “Kami mengolahnya dengan tipografi yang menarik,” kata Ketua Ikatan Sport Harley Davidson Cabang Bandung ini. Ini tentu membutuhkan kreativitas tinggi. Terutama untuk usaha ritelnya, C59 harus mampu membaca keinginan pasar.

Bagi Widyarto, riset desain sangat penting dilakukan karena kekuatan produknya terletak pada rancangan. Apalagi, industri t-shirt tergolong cepat berganti tren. Dengan bersemboyan Beda Gaya, Gaya Gaya Semua, setiap pengeluaran desain harus dipresentasikan di depan komite produk. Setelah desain terpilih, baru dilanjutkan dengan prosesi produksi, pemilihan bahan kain, teknik cetak, warna, dan sebagainya. Teknik cetak yang digunakan pun beragam, mulai dari separasi, sablon metalik, sablon timbul hingga bordir.

Penggalian ide tidak pernah berakhir. Bahkan karyawan pun mendapat kesempatan jalan-jalan untuk mencari ide segar. “Saya sering membiarkan desainer grafis nggak masuk kantor, asal ketika masuk ia sudah bawa ide bagus,” ujar pria yang menyukai dunia grafis sejak SMP ini. Desain gambar yang dikembangkan ada 8 tema, meliputi otomotif, umum, sport, musik, Indonesia, smart joke/isu sosial, lingkungan dan Bali. Desain t-shirt yang dikembangkan, antara lain body fit, junior, ladies dan kids, yang merupakan hasil riset bagian pemasaran. Tak heran, jika C59 disebut sebagai galeri desain. Kualitas produk buatan C59 selalu berada dalam pengawasan ketat. Sebelum didistrbusikan pun, produk tersebut harus melalui proses seleksi.

Dalam perkembangannya, C59 juga menjadi konsultan desain untuk instansi. Identitas suatu instansi akan diwujudkan oleh C59 melalui proses diskusi dan analisis matang. Melalui analisis tersebut, C59 merancang berbagai produk yang akan mencerminkan kepribadian instansi itu. Kepribadian suatu instansi dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk seperti, stiker, topi, seragam perusahaan, bendera serta berbagai benda yang dipergunakan sebagai promosi.

Saat ini CLS mempekerjakan 4 ribu orang dan memiliki sekitar 600 gerai di Indonesia. Sementara produknya pun sudah merambah ke Jerman, Slovakia dan Ceko. Tahun lalu produknya masuk ke jaringan Matahari Dept. Store. Seiring meningkatnya permintaan, pabriknya pun diperluas menjadi 1 hektare. Selaras dengan perkembangan usahanya, Widyarto merestrukturisasi organisasi dan usaha. “Ada perubahan dari manufacturing thinking menjadi product dan brand thinking,” tambah penerima Upakarti pada 1996 ini.

Bahkan, tahun depan akan dibentuk holding company. Ini dilakukan mengingat makin berkembangnya masing-masing divisi, sehingga akan lebih maksimal jika dipisah menjadi SBU (strategic business unit). Operational plan pun dibuat secara lengkap. Mengingat pentingnya SDM dalam perkembangan bisnisnya, ia lalu membangun Management Trainee Program. Juga, bekerjasama dengan Institut Tehnologi Tekstil dalam pengembangan SDM-nya. “People adalah aset,” ia menegaskan.

C59 yang bervisi menjadi perusahaan terkemuka di bidang ritel pakaian kasual dan aksesori pesanan untuk korporat, juga membenahi alur bisnis dan kerja. Sejak 1990, sistem Local Area Network diterapkan, bahkan kini sudah menerapkan program Management Information System. Tak ketinggalan, C59 pun membangun situs web. Melalui situs tersebut, pelanggan bisa memesan kaus dengan desain beragam. “Konsumen bahkan bisa mendesain sendiri,” tuturnya. Situs ini menjadi tuntutan jika C59 ingin mengembangkan brand-nya ke luar negeri. Database desain C59 disusun tidak hanya dalam bentuk soft copy, tapi juga hard copy. Kalau konsumen ada yang minta dibuatkan desain lama, C59 bisa mengakses ke database.

C59 termasuk agresif dalam pemasaran. Aktivitas below the line dan above the line dilakukan secara kreatif dan sesuai dengan positioning pasarnya. Untuk membangun brand, Widyarto rela merogoh kantongnya hingga ratusan juta rupiah. Misalnya, bulan ini C59 menjadi sponsor utama Cover Boy Aneka 2001 atau beriklan di TV dan media massa lain dengan tag line: “Express Your Style”. Pilihan tag line ini, menurutnya, karena t-shirt adalah media komunikasi yang bisa mengaktualisasi diri sendiri (pemakai) dan situasi yang sedang terjadi.

Belajar dari pendahulunya, Christy Collection yang sempat jaya pada awal 1980-an, ia ingin tetap fokus dalam pengembangan usaha. “Saya rasa mereka kurang fokus,” tutur penerima ASEAN Development Excecutive Award 2000-2001 ini. Ia juga belajar dari Dagadu Yogya yang produknya banyak dipalsu. Ia menyadari, produk yang tenar rentan pemalsuan. Untuk itu, ia melakukan langkah preventif sejak awal dengan mematenkan merek dan desain produknya. Juga, mengadakan pendekatan persuasif kepada para pemalsu. Widyarto juga sangat peduli dengan lingkungan di sekitarnya, sehingga keberadaan unit pengolahan limbah menjadi keharusan.

Impian Widyarto menjadikan brand C59 mendunia sepertinya akan terwujud. Tahun ini produk C59 masuk ke Slovak. Bahkan, C59 menjadi sponsor C59 Summer Music Festival in Slovak. “Mereka malah maniak C59,” ujarnya bangga.



Di balik Suksesnya Kaos C59

PT Caladi Lima Sembilan adalah perusahaan yang bergerak dalam industri garmen, khususnya T-Shirt sablon. Resmi berdiri pada tahun 1980, tepatnya 12 Oktober 1980, bertepatan pula dengan pernikahan pasangan Marius Widyarto Wiwied dan Maria Goreti Murniati. Pada awalnya modal yang dimiliki perusahaan ini sangat terbatas, karena modal awal yang mereka gunakan untuk membuka usaha bukan hasil pinjaman dari bank, teman ataupun orang tua, melainkan dari hasil penjualan kado pernikahan mereka, sebesar Rp. 2,5 juta. Dengan hanya memiliki dua orang karyawan, sebuah mesin jahit dan satu mesin obras.

Model bisnis yang pertama kali dijalankan Pak Wiwid dan istrinya ini adalah dengan melayani pesanan T-shirt bergambar (sablon) dari perorangan, sekolah-sekolah, perguruan tinggi maupun instansi Pemerintahan di Bandung. Pak Wiwid tidak hanya mendesai dan menyablon saja, tapi juga mengerjakan semuanya. Mulai dari menerima pesanan, membeli bahan, mencelup, menggunting, menyablon, menjahit, sampai mengemas. Walaupun pada saat itu pengerjaannya masih manual belum menggunakan computer.

Kemudian pada tahun 1985, C59 mulai menunjukan keunggulan dari segi bahan tshirt, jenis sablon, dan teknik pisah warna. Di samping itu C59 juga sangat memperhatikan kepuasan pelanggan, dengan dapat mengikuti secara langsung bagaimana desain kaus pesanan tersebut di buat. Dan ternyata pesanan perusahaan semakin meningkat.

Tahun 1986 C59 beroprasi dengan 20 mesin jahit. Dan pada tahun 1990, C59 semakin berkembang dengan membangun pabrik dan fasilitas modern. Bersamaan dengan di bangunnya took retail (showroom) yang pertama di jalan Tikukur No.10. Pada tahun ini pula penjualan C59 semakin meningkat dengan dengan omzet di atas Rp 1 miliar.

Periode tahun 1993-1994 C59 berdiri secara sah sebagai perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT) dengan Bapak Marius Widyarto Wiwied sebagai Direktur Utama (hingga saat ini), yang di lanjutkan dengan ekspansi ke beberapa kota di Indonesia dengan membuka Toko sendiri dan bekerjasama dengan Ramayana Department Store sebagai saluran distribusi ke Jakarta, Balikpapan, Yogyakarta, ujung Pandang, Lampung dan Malang.

Berikut ini Perkembangan dan Prestasi C59 dari tahu 1996 – 2008:

Tahun 1996 PT.Caladi Lima Sembilan (C59) memperoleh penghargaan Upakarti untuk Kategori Usaha Kecil Menengah (UKM). Selain itu pada tahun 1999 PT.Caladi Lima Sembilan (C59) memenangkan penghargaan Internasional Merit Award untuk kategori tema Kalender terbaik (Best Calender Theme).

Tahun 2000 ( 20 tahun C59) mulai memasarkan produknya ke Eropa Tengah (Ceko, Slovakia dan Germany). Sedangkan untuk mengembangkan pasar Lokal nasional, C59 menjalin kerjasama dengan Matahari Departement Store. Yang kemudian konsep serta varian Produknya mengalami perubahan. Yaitu dari “ Basic Shirt “ ( kaos oblong ) menjadi “ Fashion Apparel “ dengan segmentasi kalangan remaja usia 14 – 24 tahun.

Tahun 2001, C59 memperoleh peringkat pertama dalam ajang penghargaan Enterprise 50 ( 50 UKM Nasional Terbaik ) yang di selenggarakan oleh Accenture dan majalah SWA.

Tahun 2002-2003 PT. Caladi Lima Sembilan (C59) turut berperan dalam trend para kawula muda, dengan mengadakan “ C59 Street Fiesta ”, yang di selenggarakan di 3 kota besar di jawa, yaitu Bandung, Yogyakarta dan Surabaya.

Tahun 2004 PT. Caladi Lima Sembilan (C49) sesuai dengan slogannya “Express Your Style”, C59 turut ambil bagian dalam mengekpresikan music anak muda dalam ajang “ Indonesian Idol “, bekerjasama dengan sebuah Televisi Swasta Indonesia (RCTI) dan Fremantle Media Enterprises,Ltd. ( penyelenggara acara reality show dari America)

Tahun 2007 PT. Caladi Lima Sembilan (C59) mendapat penghargaan Hade Award dari Dinas Perindustrian Jawa Barat, dan KICK (Kreative Independent Clothing Komunity), sebagai pelopor perclothingan di Bandung Jawa Barat.

Tahun 2008 PT. Caladi Lima Sembilan (C59) bekerjasama secara resmi dengan Dekranasda Kota Bandung, Ardan Management Group, Saung Angklung Udjo, Miing fellowship, dan SMK 14/SMSR.

Tekad, keberanian, kreatifitas dan keyakinan Pak Wiwid lah yang membuat usaha ini terus berkembang hingga saat ini. Dan sekarang, Pak wiwid tinggal menikmati hasil usaha yang telah di rintis bersama istrinya tersebut dengan omset ratusan juta rupiah perbulannya.



Inspirasi dari ALAPOLA

Hasil browsing-browsing hari ini akhirnya sampai ke sebuah cerita tentang ALAPOLA. Ini adalah nama sebuah kaos asal Madura. Idenya sih sama dengan Joger atau Dagadu. ALAPOLA memposisikan diri sebuah sebuah kaos khas dari Madura. Orang yang berada di balik ALAPOLA adalah Royas Amri Bestian.

Kisah ini menarik perhatianku karena saat ini pun aku bersama dua orang rekan sedang merintis sebuah usaha pembuatan kaos dengan merek GUELO!. Namun, seperti kisah bisnis pada umumnya, seringkali bisnis harus layu sebelum berkembang. Kini, kegiatan GUELO! sedang vakum dari kegiatan. Semoga saja sebentar lagi kegiatannya akan kembali berjalan dan bisa sukses seperti ALAPOLA, JOGER, DAGADU, MAHANAGARI, atau yang lainnya. Amin....



Madura dalam Pelesetan Budaya

Selasa, 12 Agustus 2008 | 11:46 WIB Oleh:Ingki Rinaldi


Kaus-kaus dengan beragam warna dan desain dipajang di salah satu pojok rumah toko di salah satu sisi Jalan Raya Kupang Jaya, Surabaya. Beragam kaus itu bercampur dengan sejumlah barang lain, seperti pin, gantungan kunci, sandal, mug, tas pinggang, dompet, dan stiker yang juga berdesain unik.

Berbagai produk unik yang diberi nama Alapola Madura itu mengacu dan berfokus pada etnis Madura dengan segala keunikannya. Beragam produk unik Alapola Mudara berbagi tempat dengan kantor biro perjalanan wisata M Travel di rumah toko tersebut.

"Saya karyawan travel dan hanya melayani pembeli. Usaha travel ini baru berjalan sekitar tahun 2000-an, sedangkan Mas Royas dengan usaha Alapola menempati ruko ini terlebih dahulu," kata Siti Fadilah, yang siang itu menemani Kompas. Mas Royas yang dimaksud adalah Royas Amri Bestian, pebisnis di kancah industri kaus kreatif di Surabaya dan sekitarnya.

Royas yang lahir di Jakarta, 7 Juni 1982, memulai usahanya sejak masih berseragam putih abu-abu. Saat duduk di kelas 2 SMA Islam Al Azhar 2, Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Royas mendirikan Alapola Madura.

Kata Royas, alapola berarti banyak tingkah polah. Sejak awal Royas, lulusan Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, meniatkan untuk membesarkan nama Madura lewat kreativitas dan imajinasi.

"Etnis Madura sangat dikenal punya perilaku khas. Namun, mereka lebih dikenal dengan budayanya yang keras dan kasar serta budaya carok. Namun di balik semua itu, saya melihat etnis Madura juga mempunyai sebuah kekayaan seni dan budaya yang tinggi. Pola bertingkah, berpikir, dan berkarya ada keunikan tersendiri," ujar Royas, yang juga salah satu cucu mantan Gubernur Jatim M Noer.


Ternyata lucu juga

Dalam hal ini, Royas sering menggali ide desainnya dari keluarga besarnya yang merupakan keturunan asli Madura dan tinggal serta besar di Jakarta. Sejumlah lelucon khas Madura dan logo bergambar tokoh Sakera dengan sepasang mata besar dipakai untuk memberikan kesan ramah, lucu, dan unik.

Perbedaan dengan industri sejenis, seperti Joger di Bali dan Dagadu di DI Yogyakarta, adalah Alapola Madura lebih memusatkan garapannya pada segala sesuatu mengenai etnis Madura. Jadi, bukan sekadar nama tempat berupa Pulau Madura. Meskipun demikian, salah satu desain pertama berjudul "Madura Island" berupa gambar Pulau Madura yang terbukti mampu membangkitkan nostalgia.

Selain itu, Royas-bungsu dari empat orang bersaudara-juga mengarahkan desain-desain Alapola pada tema-tema umum, misalnya kata "No Porno" yang secara umum berarti slogan untuk menjauhi hal- hal porno. Namun dalam kaus Alapola, artinya bisa menjadi lain. Pasalnya, orang Madura punya kebiasaan mengulang kata-kata. Jadi, "No Porno" di kaus Alapola berarti "porno" itu sendiri.

Niat Royas, yang kini berkarier sebagai art director sign design communication, art director mirage post, styling artist, dan character designer sejumlah rumah produksi di Jakarta, untuk mengangkat humor dalam perilaku etnis Madura hingga kini direspons baik banyak orang. Royas, yang menjalankan usahanya dari Jakarta, mengatakan, orang-orang itu kerap melontarkan ucapan, "Ooo... ternyata Madura tuh lucu juga, ya."



Demikian, kumpulan tulisan tersebut,

saya berterima kasih kepada para penulis. semoga ilmunya semakin bertambah dan bisa terus berbagi, demi kemandirian ekonomi rakyat.

2 komentar:

jagad18 mengatakan...

Numpang promosi ya gan :)

http://idr-poker.blogspot.com/

http://beritaolahraga108.blogspot.com/

http://lihatberitaakurat.blogspot.com/

http://liatberitabola.blogspot.com/

http://beritaolahraga1081.blogspot.com/

http://infobolakakiterbaru.blogspot.com/

http://beritasportsterpercaya.blogspot.com/

http://seputarberitabola108.blogspot.com/

http://beritaterbaruseputarolahraga.blogspot.com/

http://agen-bola-sbobet-jagad303.blogspot.com/

jagad18 mengatakan...

Numpang lewat ya gan :)

http://idr-poker.blogspot.com/

http://beritaolahraga108.blogspot.com/

http://lihatberitaakurat.blogspot.com/

http://liatberitabola.blogspot.com/

http://beritaolahraga1081.blogspot.com/

http://infobolakakiterbaru.blogspot.com/

http://beritasportsterpercaya.blogspot.com/

http://seputarberitabola108.blogspot.com/

http://beritaterbaruseputarolahraga.blogspot.com/

http://agen-bola-sbobet-jagad303.blogspot.com/

Balas